Share

Mulai 1 Januari 2018, Blok Mahakam Resmi Dikelola Pertamina

Amir Sarifudin , Jurnalis · Senin 01 Januari 2018 11:28 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 01 320 1838388 mulai-1-januari-2018-blok-mahakam-resmi-dikelola-pertamina-3pAvSMNcDZ.jpg Foto: (Amir/Okezone)

BALIKPAPAN – Mulai 1 Januari 2018, pengelolaan Blok Mahakam beralih dari Total E&P Indonesie ke Pertamina. Serah terima pengelolaan dilakukan di Club House Total, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Prosesi diawali dengan penyerahan pengelolaan Wilayah Kerja Mahakam dari TEPI dan Inpex kepada pemerintah yang diwakili Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi yang selanjutnya menyerahkan ke Pertamina yang diwakili Direktur Hulu Syamsu Alam.

Blok yang kini berganti nama menjadi Wilayah Kerja (WK) dikelola oleh Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang disebut-sebut sebagai cucu perusahaan Pertamina. Sebelumnya pengelolaan dipegang TEPI dan Inpex selama 50 tahun.

Baca Juga: Soal Blok Mahakam, Wamen ESDM: Insya Allah, 31 Desember 100% ke Pertamina

"Pengelolaan WK Mahakam tidak lepas dari usaha keras operator sebelumnya mengingat wilayah ini merupakan produsen gas bumi terbesar di Indonesia dan menyumbang 13% produksi gas nasional," kata Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.

Alih kelola yang sudah disiapkan dalam dua tahun terakhir, lanjut Amien, untuk menjaga kontinuitas operasional WK Mahakam setelah 31 Desember 2017. "SKK Migas, PHM dan TEPI telah bekerjasama untuk proses alih kelola yang lancar sehingga operasi dan produksi migas dari WK Mahakam tetap berkesinambungan," terangnya.

Sementara Pertamina selama masa peralihan telah melakukan berbagai upaya dan koordinasi dengan semua pihak terkait. Mengingat pengelolaan WK Mahakam sebagai tugas negara yang akan dijalankan sesuai tugas pokok dan fungsi Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara atau BUMN.

Baca Juga: Catat! Persiapan Pertamina untuk Kelola Blok Mahakam

"Pengelolaan dilaksanakan dengan tetap menjaga produksi WK Mahakam yang masa puncak produksi reservoirnya pada periode 2003-2009 telah terlewati. PHM mengontrol biaya operasi dan tetap mengedepankan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security and Environment) dalam operasionalnya," kata Syamsu Alam, Direktur Hulu Pertamina.

Sampai hari ini pengeboran 14 sumur telah dituntaskan dan akan menyelesaikan sumur ke 15 sebagai upaya Pertamina menjaga kesinambungan produksi. Transfer pekerja TEPI menjadi pekerja PHM juga telah mencapai 98,23%.

"Penyesuaian kontrak kerja untuk 530 kontrak eksisting dengan pihak ketiga dengan nilai USD1,27 miliar perlu dilakukan untuk menjaga kesinambungan kegiatan produksi di Blok Mahakam," sebutnya.

Baca Juga: Sebut Rekor Dunia, Pertamina Ngebor Sumur di Blok Mahakam dalam Waktu 4 Hari

Upaya pengeboran yang dilakukan Pertamina berhasil dengan efisiensi 23% terhadap anggaran. Termasuk mencatat waktu pengeboran lebih cepat hingga 25% dan mendapatkan potensi penambangan cadangan hingga 120% serta memperoleh penambahan ketebalan reservoir sebesar 115%.

"Pada 2018 ini juga dikucurkan anggaran USD1,7 miliar untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi di WK Mahakam," ungkap Syamsu dan pengelolaan WK Mahakam menjadikan Pertamina sebagai penyumbang lebih dari 30% produksi minyak dan gas nasional pada tahun ini.

Berdasarkan data SKK Migas per November 2017, WK Mahakam berproduksi minyak dan kondensat sebesar 52 ribu barel minyak per hari dan 1.360 juta kaki kubik gas bumi per hari. Potensi di Blok Mahakam  masih cukup menjanjikan dengan bukti per 1 Januari 2016 sebesar 4,9 TCF gas, 57 juta barel minyak dan 45 juta barel kondensat.

Sedangkan pada Persetujuan Program Kerja dan Anggaran (WP&B) 2018, SKK Migas menargetkan produksi PHM 42,01 ribu barel minyak per hari dan 916 mmscf gas per hari. Angka tersebut direncanakan tercapai dengan pengeboran sumur pengembangan sebanyak 69 sumur, 132 workover sumur, 5623 perbaikan sumur serta POFD  5 lapangan migas di WK Mahakam.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini