Share

Produksi Blok Mahakam Turun

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 09 Januari 2019 11:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 09 320 2001909 produksi-blok-mahakam-turun-KsfnXY9gOb.jpg Harga minyak (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat produksi siap jual (lifting) migas Blok Mahakam sepanjang tahun lalu tidak mencapai target.

Berdasarkan catatan SKK Migas, lifting gas Blok Mahakam sepanjang 2018 hanya mencapai 832 juta kaki kubik per hari (mmscfd) atau hanya tercapai 75% dari target APBN 2018 sebesar 1.110 mmscfd. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2017 sebesar 1.286 mmscfd.

Meskipun produksi gas Blok Mahakam anjlok, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyebut capaian Pertamina di Blok Mahakam masih lebih tinggi dibandingkan proyek operator sebelumnya, yakni Total E&P Indonesie.

“Sekarang coba lihat, walaupun turun, masih lebih tinggi dari prediksi penurunan yang diajukan oleh Total,” ujar Arcandra Jakarta.

Baca Juga: Dikelola Pertamina, Kok Produksi Blok Mahakam Turun?

Menurut dia, Pertamina akan terus berupaya menahan laju penurunan produksi di Blok Mahakam. Untuk mencapai target lifting tahun ini, Pertamina telah melakukan berbagai upaya.

“Segala upaya sedang dilakukan dengan direktur hulu yang baru,” katanya.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menjelaskan, penurunan produksi Blok Mahakam disebabkan masa transisi antara Pertamina dan Total E&P tidak optimal.

Adapun Total E&P mengalihkan investasinya sebelum kontrak berakhir. Sementara Pertamina Hulu Mahakam sebagai operator baru tidak melakukan investasi secara signifikan pada 2018. “Investasi tahun-tahun sebelumnya pada masa transisi tidak jalan. Begitu juga dengan investasi pada 2018 yang terbilang masih cukup minim,” ujarnya.

Mantan Dirut Pertamina itu memprediksi produksi Blok Mahakam baru akan meningkat pada 2020. Sementara tahun ini rata-rata masih sama dengan tahun lalu.

kilang

“Pada 2018 investasinya tidak banyak sehingga dampaknya belum bisa dirasakan tahun ini. Namun, 2019 ini rencana pengeboran cukup banyak sehingga baru akan berdampak tahun depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Pertamina telah menganggarkan investasi di Blok Mahakam pada 2018 sebesar USD 700 juta, sedangkan untuk biaya operasi dianggarkan sebesar USD1,7 miliar atau mencapai Rp23 triliun.

Terdapat sejumlah kegiatan yang dikerjakan Pertamina pada investasi di Blok Mahakam selama 2018, di antaranya mengebor 69 sumur pengembangan, workover 132 sumur, dan perawatan 5.623 unit sumur. Lalu, pengembangan lanjutan (Plan of Further Development/ PoFD) untuk 5 lapangan.

Kontrak Blok Rokan Diteken Akhir Januari

Pemerintah menargetkan penandatanganan kontrak kerja sama bagi hasil gross split Blok Rokan ditandatangani akhir bulan ini. Hal itu lantaran PT Pertamina (Persero) telah memenuhi persyaratan kontrak yakni membayar bonus tanda tangan dan jaminan pelaksanaan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, pembahasan kontrak kerja sama memakan waktu sekitar dua minggu.

Baca Juga: KKP Selamatkan Kerugian Negara Sebesar Rp30 Miliar dari Tindak Penyelundupan BBL

“Kalau sudah mulai pembahasan, dalam dua pekan kedepan sudah bisa ditandatangani,” ujarnya akhir pekan lalu.

Menurut Jonan, pengelolaan Blok Rokan oleh Pertamina akan mendongkrak produksi minyak hingga mencapai 60%. Pada 2018, kontribusi Pertamina terhadap produksi minyak nasional baru mencapai 36%.

Seperti diketahui, Pertamina telah membayar bonus tanda tangan sebesar USD784 juta atau Rp11,3 triliun dan jaminan pelaksanaan sebesar 10% dari total komitmen kerja pasti (KKP) mencapai USD500 juta atau sekitar Rp7,2 triliun. Adapun kontrak Blok Rokan akan berakhir pada 2021.

Sementara Pertamina mulai efektif mengelola Blok Rokan per 9 Agustus 2021 mendatang sebagai operator dengan hak kelola sebesar 100%. Sesuai aturan, Pertamina wajib menawarkan 10% kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Blok Rokan merupakan blok minyak terbesar di Indonesia. Saat ini, produksinya mencapai 207.000 barel per hari atau setara dengan 26% produksi nasional.

kilang

Blok yang memiliki luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan, tiga di antaranya berpotensi menghasilkan minyak sangat baik, yaitu Duri, Minas, dan Bekasap.

Sejak beroperasi pada 1971 hingga 31 Desember 2017, total produksi di Blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel minyak. Namun, saat ini kinerja produksi Blok Rokan mengalami penurunan.

Pada 2018 lifting Blok Rokan hanya 209.466 barel per hari atau tercapai 98% dari target APBN 2018 sebesar 213.551 bph. Capaian ini lebih rendah dibandingkan 2017 sebesar 224.300 bph.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menambahkan, terkait masa transisi antara Chevron dan Pertamina belum masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran 2019.

Untuk saat ini baru di lakukan pembahasan antara Pertamina dan Chevron bagaimana masa transisi tersebut dapat berjalan. Dwi meyakini jika masa transisi Blok Rokan akan lebih baik dibandingkan Blok Mahakam.

Hal itu guna mengantisipasi terjadinya penurunan produksi seperti di Blok Mahakam. “Masa transisi ini harus segera berjalan supaya segera di putuskan siapa yang akan berinvestasi,” ucapnya.

(Nanang Wijayanto)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini