Ketimpangan Indonesia Turun Jadi 0,391, Tertinggi Masih di Yogyakarta

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Selasa 02 Januari 2018 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 02 320 1838854 ketimpangan-indonesia-turun-jadi-0-391-tertinggi-masih-di-yogyakarta-Nyu8KgJ4OM.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat di September 2017 gini ratio atau tingkat ketimpangan penduduk Indonesia mengalami penurunan 0,002 poin dibandingkan dengan Maret 2017. Gini ratio September 2017 tercatat 0,391 dan menurun 0,003 poin dibandingkan September 2016 yang sebesar 0,394.

"Nilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1. Pada September 2017 Gini Ratio 0,391 turun tipis dibandingkan Maret 2017 0,393. Ini menunjukkan adanya penurunan ketimpangan karena upaya menurunkan ketimpangan ini luar biasa sulitnya," ungkap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di kantornya, Selasa (2/1/2018).

 Baca Juga: Turun Tipis, Gini Ratio Indonesia Jadi 0,393

Menurutnya, ketimpangan di daerah perkotaan pada September 2017 tercatat sebesar 0,404 turun dibandingkan ketimpangan Maret 2017 yang sebesar 0,407 dan ketimpangan September 2016 sebesar 0,409. Sementara ketimpangan di daerah pedesaan pada September 2017 sebesar 0,320 dibandingkan Maret 2017 dan September 2016 sebesar 0,316.

"Pergerakan ketimpangan September 2017, kota 0,404 dan September 2017 desa 0,320. Artinya kota lebih timpang daripada desa," jelasnya.

 Baca Juga: BPS: Penduduk Miskin Turun 1,19 Juta Orang di 2017

Adapun tingkat ketimpangan di September 2016 di level 0,394, Maret 2017 sebesar 0,393 dan September 2017 sebesar 0,391.

Pada September 2017, distribusi pengeluaran pada kelompo 40% terbawah sebesar 17,22%. Artinya pengeluaran penduduk berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

"Peningkatan pengeluaran yang dikeluarkan penduduk lapisan bawah lebih tinggi dibanding peningkatan pengeluaran penduduk lapisan atas," katanya.

 Baca Juga: 760 Juta Penduduk Dunia Miskin Ekstrem, Hidup Hanya dengan Rp26.000/Hari

Sementara itu, jika dilihat menurut wilayah ketimpangan tertinggi ada di DIY dan terendah di Babel. Sumatra Barat dua terendah 0,312.

Faktor-faktor yang memengaruhi ketimpangan selama periode Maret 2017-September 2017 di pedesaan dan perkotaan adalah rata-rata pengeluaran perkapita per bulan penduduk.

"Secara nasional adalah kenaikan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk 40% terbawah dan 40% menengah meningkat lebih cepat dibandingkan penduduk kelompok 20% teratas," tukasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini