Image

KAI Targetkan Penumpang Kereta Naik 10% Jadi 400 Juta di 2018

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 10 Januari 2018, 11:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 10 320 1842769 kai-targetkan-penumpang-kereta-naik-10-jadi-400-juta-di-2018-gF83ZkA8eV.jpg Penumpang kereta api (Foto: Okezone)

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) tahun ini menargetkan bisa mengangkut penumpang hingga 400,03 juta penumpang atau meningkat sekitar 10% dibanding 2017.

Jumlah penumpang tersebut terdiri atas angkutan kereta jarak jauh sebanyak 80 juta penumpang dan angkutan kereta rel listrik (KRL) sebanyak 320,03 juta penumpang. Se bagai pembanding, pada 2017 jumlah penumpang kereta jarak jauh sekitar 77 juta penumpang dan penumpang KRL sebanyak 315 juta penumpang.

“Memang yang paling drastis itu peningkatan pada KRL yang melonjak dari target kami 292 juta penumpang,” kata Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro usai jumpa pers di Jakarta kemarin.

Dia menyebutkan, rata-rata penumpang KRL wilayah Jabodetabek bisa mencapai 1,074 juta per hari atau meningkat dua kali lipat dibanding dua tahun lalu yang hanya 500.000 penumpang per hari.

“Ini menunjukkan adanya interest penumpang meninggalkan angkutan pribadi dan beralih ke KRL,” ujar dia.

PT KAI sendiri akan berkoordinasi dengan Pemerintah DKI Jakarta dalam menyelesaikan permasalahan angkutan penumpang KRL yang melanjutkan perjalanan ke Ibu Kota.

Edi menilai beralihnya sebagian masyarakat dari kendaraan pribadi ke kereta KRL memberikan keuntungan tersendiri. Dalam rangka meningkatkan layanan kereta kepada para penumpangnya, PT KAI akan mengandalkan pendanaan dari obligasi seperti yang dilakukan pada 2017.

Pendanaan tersebut akan dimanfaatkan untuk melakukan peremajaan 884-886 kereta, khususnya kereta yang berusia di atas 30 tahun. Ada pun untuk pendanaan dari obligasi tahun lalu mencapai Rp2 triliun. Di tempat yang sama, Direktur Komersial PT KAI Bambang Eko Martono mengatakan, tahun ini PT KAI tidak akan melakukan penghematan.

Terkait keselamatan penumpang yang memanfaatkan jasa PT KAI, menurut dia, akan menjadi prioritas utama.

“Mudah-mudahan tidak akan ada penghematan. Bagaimanapun faktor safety nomor satu. Berbeda pada 2016, di mana biaya perawatan (IMO) itu sempat berkurang dari yang dikontrak. Tahun ini mudah-mudahan enggak ada,” ujar dia.

Terkait dana Infrastructure Maintenance Operation (IMO) yang dikucurkan pemerintah melalui Kementerian Per hubungan sebesar Rp1,3 triliun akan dimaksimalkan melalui pendapatan KAI di luar angkutan penumpang.

Dana IMO atau anggaran perawatan prasarana PT KAI besaran kebutuhannya mencapai Rp3,4 triliun. Jumlah tersebut masih kurang di banding dana yang dikucurkan pemerintah sebesar Rp1,3 triliun. PT KAI sendiri akan menutupi anggaran perawatan tersebut dengan memanfaatkan sektor-sektor komersial.

Ichsan Amin

(ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini