Image

Indonesia Belum Juga Jadi Negara Maju, Kenapa?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018, 11:56 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 11 20 1843374 indonesia-belum-juga-jadi-negara-maju-kenapa-xXhZrirDp6.jpg Acara FIF Group (Foto: Yohanna Artha Ully/Okezone)

JAKARTA - Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju. Hal ini terlihat dari kekayaan alam yang melimpah serta tingkat kecerdasan yang tak berbeda dengan penduduk di negara maju.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Multimedia Mabes Polri Brigjen. Pol. Rikwanto dalam workshop mengenai komunikasi yang diberikan FIF Group pada kepala cabangnya. Adapun workshop ini bekerjasama dengan majalah mingguin Sindo Weekly.

Rikwanto mengatakan, ada hal yang kurang yang membuat Indonesia tak kunjung menjadi negara maju, hal tersebut merupakan perilaku masyarakat Indonesia yang tak suka mematuhi peraturan. Menurutnya, ini menunjukkan masyarakat Indonesia sendirilah yang tak menginginkan kemajuan negaranya.

"Orang kita ini pinter-pinter, cuma pinternya 'ngakalin', enggak diarahkan dengan benar, seperti orang-orang di negara maju. Pinternya orang kita itu bisa dimainkan. Bukan kita enggak bisa maju, tapi kita yang enggak mau, orang kita enggak suka tertib, karena kalau tertib mereka enggak bisa ngapa-ngapain (berbuat curang)," ujar Rikwanto di Auditorium Gedung Sindo, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Pasalnya, kata dia, sikap dan perilaku akan membentuk kebudayaan dan pendidikan suatu bangsa. Dia mengatakan, anggaran pendidikan selalu bertambah setiap tahunnya namun secara hasil tak memberikan pertumbuhan pendidikan yang signifikan. Hal inilah yang pada akhirnya menimbulkan tindakan asusila maupun plagiat yang dilakukan para pelajar Indonesia.

"Mungkin kita sibuk ke pengetahuan saja tapi masalah psikologi kehidupan sosial kurang diperhatikan. Soft skill kurang dipelajari," ucapnya.

Di mencontohkan dengan beberapa negara di dunia yang menunjukkan kemajuan karena kemampuan soft skill yang dimiliki negara tersebut. Di antaranya Jepang yang memiliki kemampuan teknologi yang tinggi, kepatuhan masyarakatnya setidaknya terlihat dari buday antre yang sudah diajarkan sejak usia dini.

"Indonesia punya pembeli yang luar biasa, kalau kita bisa buat mobil, TV, motor sendiri kayak Jepang, kita akan kaya. Tapi yah kan kita anak-anak SMK, SMA keluar langsung 'dibantai' negara maju, beserta antek-anteknya orang kita. Mereka bilang 'matikan aja (penemuan) mereka entar ganggu kita'. Akhirnya regulasi jadi ribet banget," tukasnya.

Dia juga mencontohkan negara Swiss yang tak memiliki pohon coklat namun dikenal sebagai negara yang memasarkan coklat di dunia. Selain itu, bank-bank di Swiss memiliki reputasi yang tinggi dan aman di mata dunia.

"Terus ada Perancis, dia hasilkan parfum dengan kualitas terbaik di dunia dengan harga yang sangat mahal. Padahal bahan-bahan parfumnya juga dari negara berkembang. Mereka bisa mengelola itu, tapi kita enggak bisa melakukannya," jelas dia.

Kemajuan negara-negara tersebut, menurutnya, karena prinsip dasar kehidupan yang dipatuhi setiap penduduknya. Prinsip tersebut yakni etika, kejujuran, integritas, tanggung jawab, taat aturan dan hukum masyarakat, serta hormat pada hak orang lain. Kemudian juga cinta pekerjaan, berusaha keras menabung dan investasi, mau bekerja keras, dan tepat waktu.

"Kalau kita ikuti semuanya, kita bisa jadi masyarakat yang maju. Di negara terbelakang, miskin, atau berkembang, hanya sebagian kecil masyarakat nya yang mematuhi prinsip-prinsip tersebut, Jadi kita bukannya enggak bisa maju, kita punya potensi, tapi kita terbelakang, lemah, miskin karena perilaku kita yang kurang atau tidak baik," tandasnya.

Oleh karena itu, ujar Rikwanto, hal pertama yang perlu dilakukan untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju adalah perubahan pada diri sendiri. "Ini harus berubah dari diri sendiri terlebih dulu," pungkasnya.

Adapun dalam workshop yang menjadi agenda tahunan ini diikuti 30 peserta yang terdiri dari kepala cabang FIF Group dari berbagi wilayah di Indonesia khususnya kepala cabang yang berada di daerah. Pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali kepala cabang dalam membangun perseroan terkhususnya melalui bidang komunikasi.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini