Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ubah Sampah Jadi Energi Listrik dan Briket

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 16 Januari 2018 |12:34 WIB
Ubah Sampah Jadi Energi Listrik dan Briket
Foto: Koran SINDO
A
A
A

KLUNGKUNG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT) PLN Jakarta berhasil mengubah sampah menjadi energi alternatif berupa briket dan listrik.

Programnya sendiri diberi nama Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS), dan merupakan yang pertama di Bali. Program TOSS antara lain mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016 terkait percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah menggunakan teknologi proses thermal incinerator atau pembakaran. Peresmian program TOSS dihadiri Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta dan General Manager (GM) Indonesia Power Igan Subawa Putra di Desa Pikat, Klungkung, Bali, akhir pekan lalu. I Nyoman Suwirta optimistis bahwa program TOSS akan mengurangi pencemaran lingkungan dan bermanfaat karena menjadi bahan baku untuk energi alternatif.

Baca Juga: Konsumsi Listrik 2017 Turun, Mall Mulai Kurangi Pemakaian

“Program ini penting untuk dikembangkan karena dapat menyelesaikan masalah sampah di Klungkung. Polusi, bau, pemandangan tak sedap yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah bisa dihilangkan, bahkan diolah menjadi listrik,” ujar Suwirta.

Di sisi lain, Suwirta meyakini bahwa program tersebut dapat menjadi sumber ekonomi kreatif yang baru. Dia memaparkan dua metode dalam program tersebut, yaitu peuyeumisasi dan briketisasi. Peuyeumisasi adalah teknik mengubah sampah menjadi gas menggunakan alat bioactivator , kemudian gas tersebut digunakan sebagai bahan bakar menggerakkan generator untuk memproduksi listrik.

Baca Juga : Penyederhanaan Golongan Listrik Batal Diterapkan Tahun Ini

Sementara briketisasi adalah teknik mengubah sampah menjadi bahan bakar briket. “Briket tersebut selanjutnya dapat dijual kepada pihak Indonesia Power,” paparnya. Suwirta menjamin produk briket yang dihasilkan tidak akan menimbulkan aroma tidak sedap pada makanan yang dimasak. “Jika prosedur operasi standarnya atau SOP-nya benar, saya berani jamin dalam waktu tiga hari bau sampah akan hilang, dan briket tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk proses memasak. Dengan demikian, program TOSS ini bernilai ekonomis dan juga ramah lingkungan,” jelas Suwirta.

Lebih lanjut, Suwirta berharap setiap desa dapat mengolah sampahnya menjadi briket dan listrik. Menurut dia, Klungkung adalah kabupaten pertama di Bali yang menggunakan metode ini. Suwirta meyakini program TOSS ini merupakan solusi terbaik untuk penanganan masalah sampah dan mencegah pencemaran lingkungan di Kabupaten Klungkung. “Ke depannya, saya harap seluruh desa akan mengolah sampahnya menjadi listrik dan briket yang bernilai ekonomis. Saya akan menghadirkan mesin dengan kapasitas lebih besar dan area yang diperluas,” ucapnya.

Baca Juga: Rapor Sektor Listrik di 2017, Rata-Rata Lampaui Target?

Sementara itu, GM Indonesia Power Igan Subawa Putra menyambut positif program ini. Melalui program ini, Klungkung akan mampu menghasilkan listrik kerakyatan. Subawa optimistis program tersebut dapat mereduksi hingga 32 ton sampah dan mengubahnya menjadi listrik hingga 5 megawatt. “Jika konsisten, saya yakin permasalahan sampah di Klungkung akan bisa teratasi melalui program TOSS Gema Santi (Gerakan Masyarakat Santun dan Inovatif) ini,” ujarnya.

(Inda S)

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement