Bila kinerja emiten sepanjang 2017 telah dirilis, maka posisi PER akan menurun sehingga harga-harga saham yang sebelumnya di anggap relatif mahal kembali menarik diakumulasi. Selain sentimen kinerja laporan keuangan emiten, potensi berlanjutnya rally IHSG akan dipicu oleh keyakinan mereka terhadap peringkat utang Indonesia yang akan kembali di naikkan oleh Moodys Investors Services. Pasalnya, pada 20 Desember 2017 lalu, lembaga rating internasional lainnya, yakni Fitch Rating, telah lebih dulu melakukannya karena yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan menanjak lebih tinggi dari tahun 2017 dengan asumsi 5,2%-5,3%.
Baca Juga: OJK: Pasar Modal Indonesia Tumbuh Tertinggi Ke-4 di Asia Pasifik
Proses kontestasi dalam pemilihan kepala daerah serentak yang diyakini akan berlangsung kondusif juga berkontribusi. Apalagi pilkada membawa dampak baik bagi kenaikan daya beli karena dana-dana politik mulai diguyur. “Ini membawa dampak positif bagi kinerja saham-saham sektor konsumsi,” ujarnya. Sentimen positif makin sempurna seiring tren kenaikan harga komoditas batu bara dan pertambangan lain, seperti timah dan nikel yang didorong oleh kenaikan harga minyak yang mendekati USD70 per barel. Sentimen ini mendatangkan berkah pada saham-saham komoditas tersebut.
Berlandaskan sejumlah sentimen positif tadi, ada baiknya investor domestik tak buru-buru terpengaruh tatkala ada sebagian pemodal asing melakukan aksi jual. Sebaliknya, ketika terjadi koreksi justru merupakan peluang untuk melakukan akumulasi. Sebab secara jangka menengah dan panjang, pasar memiliki modal fundamental yang kuat untuk terus bertumbuh mencetak rekor-rekor IHSG baru.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.