Image

Kemudahan Izin Tenaga Kerja Asing Bakal Tingkatkan Pengangguran?

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 15 Februari 2018 20:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 15 320 1860278 kemudahan-izin-tenaga-kerja-asing-bakal-tingkatkan-pengangguran-ytpH04dztO.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai aturan terbaru untuk pelonggaran izin tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia, tidak memengaruhi tingkat kemiskinan ataupun pengangguran di Indonesia. Aturan tersebut direncanakan akan berbentuk Peraturan Presiden (Perpres).

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, TKA yang masuk ke Indonesia tidak di semua bidang. Hanya bidang-bidang tertentu saja yang membutuhkan skill.

"Saya pikir enggak kan pemerintah juga harus hati-hati kan, enggak akan dilepas begitu saja, gak mungkin," ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (15/2/2018).

 Baca juga: Gelar Aksi Cuci Pakaian, Ini 7 Tuntutan PRT untuk Menaker

Dia melanjutkan, TKA yang akan menetap di Indonesia tentu harus melewati sejumlah syarat. Artinya ketika syarat tersebut tidak terpenuhi maka mereka tidak akan masuk.

"Saya pikir akan selektif lah, pasti ada filtering," tegasnya.

 Baca juga: Pemerintah Buat Aturan Baru Izin Pekerja Asing di Indonesia

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, perusahaan yang mengontrak pekerja asing harus melapor kepada pemerintah, jika suatu saat dia sudah tidak kerja. Dalam aturan baru akan ada penekanan kepada perusahaan untuk mengamankannya.

"Kalau saya (pekerja asing) habis kontrak, maka (perusahaan) lapor. Supaya pemerintah bisa cabut Visa atau Kitas. Itu sekarang lagi diproses," sambungnya.

 Baca juga: 52 Juta Jenis Pekerjaan Digantikan Mesin, Sri Mulyani: Siapkan Skill

Menurut Luhut, pemberian izin bisa lama untuk bidang teknologi tinggi seperti sains. Pasalnya, kita butuh tenaga kerja ahli, masa kita persulit. "Misalnya kita butuh dia mengajar 5 tahun di sini ya kasih 5 tahun, asal tetap dengan ITB, ITS, UI," ujarnya.

Menurutnya, Indonesia masih merintis tenaga ahli dalam pendidikan vokasional yang sedang dijalankan.

Jadi, kita sangat kekurangan orang dalam hal mengajar. Contoh sekolah Pelayaran di Makasar, instrukturnya cuma 10 orang, bagaimana mau jadi. "Sekarang kita mendidik dari bawah dilakukan sekarang. Nanti kita marah kalau kita pakai lokal tidak kerja, sekarang cari tukang las aja susah," ujarnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini