nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OJK: Stabilitas Industri Keuangan Terjaga

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 02 Maret 2018 11:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 02 20 1866904 ojk-stabilitas-industri-keuangan-terjaga-bdqFlNVHfd.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia dalam kondisi terjaga. Kondisi ini sejalan dengan perkembangan ekonomi global dan nasional. 

Dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK), OJK juga menilai perbaikan ekonomi global semakin solid dan merata. Hal ini ditunjukkan kinerja perekonomian Amerika Serikat (AS), Eropa, Jepang, dan China yang meningkat. Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Yohannes Santoso Wibowo mengatakan, perkembangan perekonomian AS yang positif ditunjukkan oleh peningkatan inflasi, upah yang meningkat dan terjaga rendahnya tingkat pengangguran.

Baca Juga: OJK Beberkan Bukti Industri Jasa Keuangan dalam Status Aman

"Reformasi pajak Trump yang akan meningkatkan defisit fiskal dapat mendorong naiknya pertumbuhan ekonomi sekaligus tekanan inflasi,” kata Santoso, di Jakarta, kemarin. Hal ini telah mendorong naiknya ekspektasi pasar atas laju kenaikan Fed Fund Rate yang lebih cepat. 

Sementara di domestik, indikator makro ekonomi bergerak solid. Inflasi Januari 2018 terpantau turun, kinerja eksternal naik sejalan dengan tren global, serta akumulasi cadangan devisa terpantau meningkat. Meskipun demikian, sambung dia, pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2017 masih meningkat secara moderat dan perbaikan indikator sektor riil masih terbatas.

Baca Juga: Muliaman Hadad Jadi Dubes RI untuk Swiss

Santoso mengatakan, di pasar keuangan domestik, meskipun terdapat net sell nonresiden sebesar Rp9,14 triliun di bulan Februari 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melanjutkan penguatan. Per 23 Februari IHSG secara year to month menguat tipis 0,2%. Sementara yield SBN tenor jangka pendek, menengah, dan panjang masing-masing naik sebesar 4 bps, 28 bps, dan 18 bps. 

Menurutnya, hal ini didorong oleh net sell nonresiden di pasar SBN sebesar Rp13 triliun pada Februari 2018. Sesuai dengan siklus awal tahun, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan pada Januari 2018 masih berada pada level yang moderat. Kepala Departemen Stabilitas Sistem Keuangan OJK Rendra Idris menuturkan, kredit perbankan Januari 2018 tumbuh sebesar 7,40% yoy dan piutang pembiayaan tumbuh sebesar 6,92% yoy. Adapun dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan tumbuh sebesar 8,36% yoy.

Premi asuransi jiwa tumbuh sebesar 44,78% yoy, sedangkan Desember 2017 sebesar 33,43% (yoy). Untuk asuransi umum/reasuransi naik sebesar 22,93% yoy, sedangkan Desember 2017 sekitar 6,29%.

Idris mengatakan hingga 27 Februari 2018 penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp22 triliun dengan jumlah emiten baru yang tercatat satu perusahaan. Di tengah perkembangan intermediasi keuangan tersebut, risiko Lembaga Jasa Keuangan (risiko kredit, pasar, dan likuiditas) Januari 2018 berada pada level yang manageable. Rasio Non-Performing Loan atau kredit bermasalah (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,86%, sedangkan Desember 2017 sebesar 2,59%. Rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat 2,95% dan Desember 2017 sekitar 2,96%.  Ke depan, OJK akan terus memantau dinamika perekonomian global dan dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional, khususnya laju kenaikan Fed Fund Rate dan tren kenaikan suku bunga di pasar keuangan global. (kunthi fahmar sandy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini