nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prospek Ekonomi Global Membaik

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 11:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 14 20 1872491 prospek-ekonomi-global-membaik-rHufhlRcIS.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan meningkat. Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia dan harga komoditas global termasuk minyak. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman mengatakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi global bersumber dari perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang lebih kuat dari perkiraan semula. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan meningkat dengan ditopang oleh investasi dan konsumsi yang menguat seiring optimisme terhadap reformasi pajak di AS. 

Baca Juga: Bos IMF Tak Luput Ingatkan Indonesia soal Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Sejalan dengan perkembangan tersebut, suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan akan kembali meningkat disertai penurunan besaran neraca bank sentral untuk merespons ekspektasi inflasi yang akan meningkat di kisaran targetnya. 

“Ekonomi Eropa juga diprakirakan tumbuh lebih baik, didukung oleh perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif,” ujar Agusman. 

Pertumbuhan ekonomi Jepang juga direvisi ke atas sejalan dengan perkembangan ekspor yang kuat, implementasi insentif perpajakan untuk perusahaan, dan kebijakan moneter yang masih akomodatif. Sementara di negara berkembang, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan tetap tumbuh tinggi terutama didorong oleh ekspor seiring peningkatan permintaan khususnya dari negara maju.

Baca Juga: Iklim Ekonomi Kian Positif pada Kuartal I-2018

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan akan tumbuh 3%-3,2% tahun ini. Reformasi kebijakan pajak akan mendorong investasi dan penyerapan tenaga kerja di AS. 

Namun, ada kekhawatiran Fed rate akan naik lebih cepat dari ekspektasi sehingga ketidakpastian pemulihan ekonomi AS bisa berjalan mulus. 

“Kebijakan proteksionisme AS juga mengancam surplus perdagangan negara-negara mitra dagang AS,” katanya. 

(Kunthi Fahmar Sandy)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini