Image

China Tambah Kepemilikan Surat Utang AS

ant, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 10:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 17 20 1887604 china-tambah-kepemilikan-surat-utang-as-Q4K1XOYj2e.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Tiongkok (China) menambah kepemilikannya atas surat utang pemerintah AS pada Februari, setelah jatuh ke level terendah enam bulan pada Januari.

Tiongkok menaikkan kepemilikan surat utang pemerintah AS sebesar USD8,5 miliar menjadi USD1,1767 triliun pada Februari, kata Departemen Keuangan AS, Senin (16/4/2018). Tiongkok tetap menjadi pemegang obligasi pemerintah AS terbesar.

 Baca juga: Presiden China Janji Buka Perekonomian hingga Menurunkan Tarif Impor

Jepang, pemegang surat utang (obligasi) pemerintah AS terbesar kedua, memangkas kepemilikannya sebesar USD6,3 miliar menjadi USD1,0595 triliun dalam sebulan.

 

(Ilustrasi: Shutterstock)

Pada akhir Februari, keseluruhan kepemilikan asing atas surat utang pemerintah AS naik menjadi USD6,2916 triliun.

Ketika Presiden AS Donald Trump mengambil sikap keras terhadap perdagangan Tiongkok, para investor terus mengawasi kepemilikan Tiongkok atas surat utang AS.

 Baca juga: China Umumkan Tarif Baru untuk 106 Produk AS

Menanggapi kekhawatiran pasar bahwa Tiongkok akan mengurangi kepemilikan surat utang AS sebagai tindakan balasan terhadap tindakan tarif AS pada produk-produk Tiongkok, Wakil Menteri Keuangan Tiongkok Zhu Guangyao mengatakan awal bulan ini bahwa Tiongkok adalah investor yang bertanggung jawab dan menghormati aturan pasar modal internasional.

 

(Ilustrasi Shutterstock)

"Tiongkok mengelola cadangan devisanya melalui operasi pasar sesuai dengan aturan pasar, prinsip-prinsip pasar khusus dan prinsip-prinsip investasi yang terdiversifikasi," katanya, mengutip pernyataan yang dibuat oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengenai manajemen cadangan devisa pada bulan lalu.

 Baca juga: China Berlakukan Tarif Impor 128 Produk AS Hari Ini, Perang Dagang Bergulir

Cadangan devisa Tiongkok naik menjadi USD3,1428 triliun pada akhir Maret, menurut data dari sentral Tiongkok, People's Bank of China (PBoC).

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini