Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara Mendesak

Koran SINDO , Jurnalis-Kamis, 03 Mei 2018 |10:40 WIB
Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara Mendesak
Foto: Pembangunan Bandara Bali Utara Mendesak (Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sudah sangat mendesak. Hal itu mengingat kapasitas Bandara Internasional Ngurah Rai yang berada di sebelah selatan Bali sudah melebihi kapasitas (overload).

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, setiap maskapai kesulitan mendapatkan slot terbang di Bandara Ngurah Rai. Untuk itu, diperlukan penyeimbang dengan keberadaan bandara baru.

“Yang pasti kondisi Bandara Internasional Ngurah Rai saat ini sudah overload. Bebannya sudah melampaui daya dukung bandara itu,” ujar dia di Jakarta, kemarin.

 

Menurut dia, terdapat sejumlah opsi yang bisa dilakukan pemerintah mengatasi overload Bandara Ngurah Rai. Pertama, perluasan bandara eksisting Ngurah Rai melalui penambahan apron dan runway. Kedua, pembangunan bandara baru yang sudah ditawarkan oleh prakarsa melalui Bandara Internasional Bali Utara (BIBU).

“Alternatifnya memperluas Bandara Ngurah Rai dengan apron yang lebih luas dan runway bangun satu lagi. Atau, membuat bandara baru dengan catatan harus ada konektivitas antara wilayah utara dan selatan. Tanpa itu, nantinya akan menimbulkan masalah tersendiri,” ucap dia.

Dia juga meminta pemerintah jangan bersikap plinplan mengenai rencana pembangunan bandara baru.

“Menteri yang satu bilang A, sedangkan menteri yang satu bilang B. Nanti pemerintah yang lain bilang sedang jalan. Jangan membingungkan masyarakat,” katanya.

 

Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) telah lama diusulkan sejak 2009. Targetnya saat itu bisa selesai sebelum digelar pertemuan puncak pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada Oktober 2018.

Dalam perjalanannya justru molor tanpa kejelasan. Padahal, sebagaimana Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2014 tentang Tata Cara Prosedur Penetapan Lokasi Bandar Udara sudah dipenuhi oleh BIBU.

“Kami sudah melakukan semua kajian dari kajian paling awal hingga paling akhir. Finalnya sisa menunggu penetapan lokasi dari regulator Kementerian Perhubungan,” ujar Presiden Komisaris Bandara Internasional Bali Utara Iwan Erwanto saat berkunjung ke redaksi KORAN SINDO, kemarin.

Dia memaparkan, potensi Bali Utara dengan pembangunan bandara yang mengambil lokasi 600 hektare lahan di Kubu Tambahan, Buleleng, Bali Utara. Dengan investasi dari investor sebesar Rp28 triliun, BIBU mantap meyakinkan pemerintah.

Apalagi, potensi yang bisa dihasilkan tidak hanya dari sisi pariwisata, namun juga mampu menciptakan lahan kerja baru bagi masyarakat Bali Utara. “Potensinya bisa menciptakan pariwisata baru. Dari sisi bisnis logistik juga terbilang besar. Mirip-mirip dengan apa yang ada di Dubai bisa kita wujudkan,” ujar dia.

Yang lebih penting dari itu, lanjut dia, kondisi Bandara Ngurah Rai yang overload dan ada blocking penerbangan yang bisa terjadi kapan saja akibat erupsi Gunung Agung mampu menjadi penyeimbang.

“Yang paling penting adalah sebagai penyeimbang. Karena kalau sekali Gunung Agung batuk saja, kerugian yang dihasilkan juga sangat besar sekali,” ujar Iwan.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement