Menggali Potensi Ekonomi Keuangan Syariah dengan Pesantren

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 03 Mei 2018 11:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 03 320 1893969 menggali-potensi-ekonomi-keuangan-syariah-dengan-pesantren-mwhtWn6oJ0.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

SEMARANG – Bank Indonesia (BI) menyatakan potensi ekonomi dan keuangan syariah dalam kegiatan ekonomi nasional masih sangat besar.

Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengatakan, di dunia internasional, kinerja ekonomi dan keuangan syariah juga memperlihatkan pertumbuhan pesat.

Pada tahun 2016, volume industri halal global mencapai USD4,15 triliun dan diperkirakan akan meningkat mencapai USD6,78 triliun pada tahun 2022, karena Indonesia merupakan pangsa terbesar bagi produk industri halal tersebut. Adapun pada tahun 2016 volume pasar makanan halal di Indonesia mencapai USD169,7 miliar.

“Kondisi ini menunjukkan besarnya potensi pasar Indonesia bagi produk halal. Namun di sisi lain, potensi ini juga dapat mencerminkan ancaman jika ternyata produk halal tersebut tidak bisa dipenuhi secara domestik sehingga berimplikasi terhadap besarnya impor yang akan menekan posisi neraca pembayaran Indonesia,” ujar Agus seusai membuka acara Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa bertema Peningkatan Peran Pesantren dan Industri Halal dalam Pengembangan Ekonomi Syariah di Semarang, Jawa Tengah, kemarin.

 

Dia mengatakan, upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia telah ada sejak lama. Berbagai upaya lainnya juga terus dilakukan untuk mewujudkan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

“BI juga telah melakukan kolaborasi erat dengan Majelis Ulama Indonesia untuk mendukung ekonomi dan keuangan syariah, terutama terkait dengan area kebijakan moneter, sistem pembayaran, maupun ekonomi syariah secara umum,” kata Agus.

Dalam beberapa tahun terakhir, potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia kembali meningkat. Hal ini terindikasi dari tingginya potensi pengembangan industri halal antara lain meliputi industri makanan/minuman, pariwisata, fashion, serta industri farmasi.

Sementara perkembangan industri ke uangan syariah yang telah lebih dahulu menjadi akselerator ekonomi syariah di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Namun, menurut Agus, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi syariah masih menghadapi berbagai tantangan antara lain berupa masih relatif rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah.

 

Tantangan berikutnya terletak pada masih terbatasnya peran pesantren sebagai salah satu sendi utama ekonomi syariah. Oleh karena itu, kata Agus, mengembalikan peran sentral pesantren dalam pengembangan ekonomi nasional menjadi penting.

“Untuk mencapai hal tersebut, BI melakukan sinergi dengan segenap pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan kemandirian pesantren sekaligus memperbesar kontribusi pesantren dalam ekonomi syariah di sektor riil antara lain berupa usaha pengolahan, pertanian/peternakan, dan pariwisata,” kata Agus.

 

Dengan begitu, diharapkan pesantren dapat bersinergi dengan industri halal untuk menjadi motor pengembangan ekonomi syariah yang berkesinambungan dan inklusif.

Agus mengungkapkan, berbagai bentuk program edukasi dan sosialisasi akan dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar bisa berpartisipasi aktif dan memperoleh manfaat dari pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Karena itu, untuk mengoptimalkan proses edu kasi dan komunikasi, BI telah menginisiasi festival ekonomi syariah (Fesyar) yang dimulai pada 2017 lalu di Makasar, Bandung, dan Medan. Pada tahun 2018 ini rangkaian Fesyar dimulai di regional Jawa di Kota Semarang dan selanjutnya akan dilakukan di Lampung untuk regional Sumatera dan Lombok untuk wilayah Indonesia Timur.

 

Direktur Eksekutif Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pro vinsi Jawa Tengah Hamid Ponco Wibowo menuturkan, berbagai rangkaian kegiatan pendahuluan dalam Fesyar tahun 2018 merupakan bagian dan penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Forum (ISEF) yang telah berlangsung sejak tahun 2014 di Surabaya.

Rangkaian kegiatan Fesyar meliputi pemberdayaan ekonomi syariah, optimalisasi Islamic Social Finance, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapabilitas pelaku ekonomi syariah. Menurutnya, pelaksanaan Fesyar di regional bertujuan untuk pengembangan ekonomi syariah dapat dilakukan merata di seluruh Indonesia untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional.

“Karena itu, diharapkan Fesyar ini juga dapat mengidentifikasi serta mendorong tokohtokoh inspiratif ekonomi syariah yang telah ada saat ini agar dapat menjadi motor penggerak bagi lingkungan sekitarnya,” ungkap dia. (Kunthi Fahmar Sandy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini