Share

Bos Lembaga Anti Pencucian Uang: Indonesia Berkomitmen Perangi Money Laundering

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 09 Mei 2018 16:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 09 20 1896349 bos-lembaga-anti-pencucian-uang-indonesia-berkomitmen-perangi-money-laundering-eZlIMY3RPi.jpg Foto: Bos Lembaga Anti Pencucian Uang Santiago Otamendi (Giri/Okezone)

JAKARTA - Presiden organisasi dunia untuk memerangi tindak pencucian uang dan pendanaan terorisme atau The Financial Action Task Force (FATF) Santiago Otamendi bersama rombongan siang ini menyambangi Kantor Kementerian Keuangan.

Kedatangan Bos FTAF itu sendiri adalah untuk bertemu dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di kantornya. Selain itu hadir pula Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin. Kiagus didampingi oleh Wakil Kepala PPATK Dian Ediana Rae.

Ditemui usai pertemuan Santiago Otamendi mengatakan, pertemuan tersebut adalah untuk mengetahui komitmen Indonesia dalam memerangi Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasalnya, beberapa waktu lalu Indonesia melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan ketertarikannya untuk menjadi anggota dari FATF.

"Kami di sini di Indonesia, Jakarta. Karena kami berada di misi tingkat tinggi sebagai dewan internasional The FATF. Memiliki pertemuan dengan pejabat tinggi, dengan menteri keuangan. Kami benar-benar melihat komitmen besar yang dimiliki Indonesia, skenario internasional," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (9/5/2018).

 

Dirinya juga menyebut tidak ada kesepakatan secara khusus pada pertemuan terkait kapan Indonesia bisa menjadi anggota FATF. Pasalnya pada pertemuan tersebut hanya dibahas mengenai bagaimana pandangan dan tantangan dalam tindak pidana pencucian uang baik yang ada di dalam negeri maupun Internasional.

"Apakah ada kesepakatan dengan menteri keuangan? Kesepakatan itu hanya untuk berbagi pandangan tentang tantangan. Berbagi juga tentang pendekatan di papan internasional," jelasnya.

Dari hasil perbincangan dan berbagi pandangan tersebut lanjut Santiago, dirinya melihat komitmen yang baik dari Indonesia. Oleh karena itu, dirinya menyebut tidak ada masalah yang berarti dalam proses keanggotaan Indonesia.

"Jadi memiliki perasaan yang baik tentang komitmen besar indonesia. Kami berjalan dengan sangat baik dengan misi tingkat tinggi ini," jelasnya.

 

Apalagi dirinya menyebut jika Indonesia sebagai negara yang penting di kancah Internasional. Oleh karenanya, cepat atau lambat organisasi akan mengusahakan agar Indonesia bisa masuk sebagai anggota FATF

"Jadi indonesia adalah negara yang sangat penting di dunia. Kami membutuhkan suara indonesia di tubuh kami. Jadi kami sedang mengusahakannya," tukasnya.

Sementara itu Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin menyebut jika bos FATF itu terkesan dengan komitmen Indonesia untuk menjadi anggota. Bahkan dari sisi hukum, hingga Infrastrukturnya, Indonesia disebut serius untuk menjadi anggota FATF.

"Yang kita bahas adalah mengenai peran dari masing-masing Kementerian Lembaga jadi infrastruktur hukumnya sudah oke dalam pelaksanaannya peran masing masing lembaga berjalan dengan baik. Kemudian komitmen dari masing-masing kementerian lembaga semuanya bagus tinggal kita bagaimana nanti memeprtahankan itu dan kedepannya kita bisa berjalan dengan baik," paparnya.

Dengan respons yang cukup positif, maka dirinya cukup optimis jika Indonesia akan diterima sebagai anggota FATF. Dirinya bahkan menyebut jika seluruhnya lancar, maka Indonesia bisa menjadi anggota pada tahun 2019 atau 2020 mendatang.

"Itu harus melalui suatu proses nanti kita kalau kita sudah ini kalau dia sudah setuju kita akan jadi observer dulu nanti akan dilakukan evaluasi kalau oke 2019 atau 2020 gitu kita jadi anggota," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini