Image

Utang Pemerintah Naik Jadi Rp4.180 Triliun, Bagaimana Cara Bayarnya?

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 18 Mei 2018 11:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 18 20 1899733 utang-pemerintah-naik-jadi-rp4-180-triliun-bagaimana-cara-bayarnya-1pkNoxJqjD.jpg Ilustrasi: Utang Pemerintah Naik (Okezone)

JAKARTA – Pemerintah harus mampu mengelola utang lebih baik. Salah satunya dengan melakukan rekayasa keuangan (financial engineering) untuk mengatasi persoalan utang Indonesia.

Tercatat, saat ini utang pemerintah mencapai Rp4.180 triliun, naik Rp46 triliun atau lebih tinggi 1,06% dari Maret yang sebesar Rp4.136 triliun.

”Misalkan, pemerintah membutuhkan dana sebesar USD30 miliar untuk pembangunan atau investasi. Untuk itu, pemerintah harus menawarkan surat utang sebesar USD40 miliar,” ujar pengamat pasar modal dan perbankan Adler Haymans Manurung di Jakarta.

 Utang Luar Negeri Indonesia Naik 8,7% pada Triwulan I 2018

Pemerintah, lanjut Adler, meminjam dana sebesar USD10 miliar dari Bank Indonesia (BI) untuk membeli surat utang yang diterbitkan Pemerintah Inggris atau Amerika Serikat (AS) dengan periode 30 tahun tanpa bunga (zero coupon). ”Di mana pada tahun ke-30 nilai surat utang ini menjadi USD40 miliar. Utang bayar utang, tetapi tidak menumpuk utang,” katanya.

Dengan demikian, kata Adler, di APBN pemerintah hanya bayar bunganya, principal tidak perlu dipikirkan lagi. Karena principal akan dibayar oleh pinjaman melalui bond Inggris atau AS tadi. ”Sehingga anak cucu kita tidak akan memikirkan utang,” katanya.

Justru utang dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih besar. ”Kita sebagai anak bangsa harus memberikan konsep bagaimana mencari solusinya, bukan seperti yang terjadi sekarang ini masalah utang hanya dipolitisasi, tetapi tidak ada solusi mengatasinya,” tegasnya.

 Utang Luar Negeri Indonesia Naik 8,7% pada Triwulan I 2018

Dewan Pakar Jokowi Centre ini menjelaskan, komposisi utang pemerintah pada 2017 berasal dari pinjaman (loans) Rp744 triliun, utang sekuritas (debt securities) Rp3.195 triliun. Jadi, totalnya Rp3.938 triliun yang merupakan 31,7% dari produk domestik bruto (PDB).

”Ini merupakan akumulasi dari utang pokok dan bunga. Tidak ada yang salah dengan utang karena semua negara melakukannya. Bahkan dari data yang ada utang Jepang 240% dari PDB, AS 90% dari GDP, Jerman 60% dari GDP, Italia 120% dari GDP, dan sebagainya,” kata Adler.

Sementara itu, ekonom Lucky Bayu Purnomo menegaskan, masyarakat Indonesia sudah rasional dalam melihat indikator ekonomi dan pergerakan dinamikanya. Contohnya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi salah satu indikator bagi setiap negara dalam melihat fakta autentik pergerakan perekonomian.

 

Menurut Bayu, ketika ada peristiwa bom di Surabaya, pada pembukaan Bursa Efek Indonesia pukul 09.47 WIB, IHSG melemah 1,27%. Menjelang penutupan sore hari terjadi koreksi hanya melemah 0,70%. ”Jadi, shock yang terjadi hanya sesaat. Karena publik atau pasar melihat persoalan itu sangat rasional dalam kategori general risk dan specific risk.

Kesimpulannya, kejadian yang terjadi memiliki efek temporer dan bersifat specific risk dalam skala rendah. Lucky Bayu juga menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2018 (yoy) adalah 5,06% masih dalam kategori on the track. Jawa, menurut dia, masih memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi 58,67%, Sumatera 21,54%, Kalimantan 8,24%, Sulawesi 6,02%, Bali & Nusa Tenggara 3,03%, Maluku & Papua 2,50%.

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 8,7% pada Triwulan I 2018

Namun, dari data yang ada sejak Mei 2017 sampai Mei 2018. Posisi infrastruktur yang saat menjadi primadona pemerintah masih berada di bawah rata-rata. Gairah ekonomi sektoral yang di atas rata-rata justru industri dasar, pertambangan, dan finance.

”Pemerintah harus memperkuat strategi agar kinerja sektoral tertentu dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

 Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS

Minyak dunia dan rupiah juga menjadi indikator penting. Harga minyak dunia meningkat terus, harganya USD76 per barel.

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp14.040 pada Jumat (11/5) terjadi akibat penguatan dolar AS. ”Situasi eksternal lebih besar pengaruhnya daripada domestik. Jadi, bukan karena merosotnya kepercayaan di pasar domestik,” katanya. (Sudarsono)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini