nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kerangka Ekonomi 2019, Pemerintah Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 5,4%-5,8%

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 18 Mei 2018 12:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 18 20 1899774 kerangka-ekonomi-2019-pemerintah-prediksi-pertumbuhan-ekonomi-5-4-5-8-mGCh1lQHDj.jpeg Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani di DPR (Feby/Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menghadiri rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ke-24. Adapun pembahasan terkait kerangka ekonomi makro dan kebijakan fiskal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

Dalam pidatonya, Sri Mulyani mengatakan, RAPBN 2019 telah disusun dengan memperhatikan berbagai dinamika lingkungan global seperti ketidakpastian perekonomian dunia, volatilitas perekonomian dan keuangan globai akibat normalisasi kebijakan moneter dan ekspansi kebijakan fiscal. Pemerintah juga telah mempertimbangkan membaiknya kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mengakibatkan kenaikan suku bunga global.

Kemudian perkuatan mata uang dolar Amerika Serikat, yang menyebabkan terjadinya pembalikan arus modal keluar dari negara negara berkembang termasuk Indonesia.

Dengan memperhatikan fenoma-fenoma tersebut, pemerintah telah membuat gambaran perekonomian makro Indonesia yang akan menjadi landasan dalam menyusun asumsi dasar dalam perhitungan anggaran tahun 2019.

"Untuk itu, pada tahun 2019 pemerintah telah menetapkan sasaran pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,4%-5,8%," tuturnya, di Gedung Paripurna DPR, Jakarta, Jumat (18/5/2018).

Menkeu Sri Mulyani: Kinerja APBN 2018 Alami Perbaikan

Menurutnya, sasaran pertumbuhan ini diarahkan untuk mendorong pemerataan pertumbuhan di seluruh wilayah Indonesia dengan melaksanakan percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia, wilayah perbatasan, kawasan terluar dan daerah tertinggal.

Beberapa daerah yang masih mengandalkan sumber daya alam sebagai sektor unggulan diarahkan untuk mengembangkan perekonom bernilai tambah, agar tidak rentan terhadap gejolak harga komoditas.

"Walaupun dihadapkan berbagai kendala dan ketidakpastian, pemerintah tetap berupaya keras mewujudkan peningkatan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan inklusif agar peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat lebih adil dan merata," ujarnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini melanjutkan, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif, maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga perlu turus dijaga. Untuk itu, pemerintah berupaya menjaga inflasi pada tingkat yang rendah untuk menjamin daya beli masyarakat.

"Pada tahun 2019, pemerintah akan menjaga inflasi pada rentang 3,5% plus minus 1%," tuturnya.

Dalam pengendalian inflasi, pemerintah menjaga keseimbangan sisi penawaran dan sisi permintaan. Untuk menjaga ketersediaan pasokan barang khususnya pangan. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional,

Selain itu, pemerintah tetap mengalokasikan subsidi pangan dan dana cadangan pangan yang digunakan untuk penyediaan pangan bagi masyarakat yang kurang mampu. Peran aktif Pemerintah Daerah juga diperlukan untuk menjaga inflasi di masing-masing daerahnya melalui sinergi dan koordinasi dengan Bank Indonesia selaku otoritas moneter untuk mendukung pengendalian inflasi.

Untuk nilai tukar Rupiah, Sri Mulyani menyebut bahwa pemerintah menyadari bahwa dengan arah normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mendorong kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve, pada tahun 2019 banyak faktor yang akan mempengaruhi nilai tukar Rupiah.

Kebijakan moneter di Amerika menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas dan pergerakan nilai tukar yang juga akan mempengaruhi pergerakan arus modal secara global.

Menkeu Sri Mulyani: Kinerja APBN 2018 Alami Perbaikan

"Dengan mempertimbangkan perkembangan ini, rata-rata nilai tukar Rupiah tahun 2019 diperkirakan berada dalam rentang Rp13.700-Rp14 000 per dolar Amerika Serikat," ujarnya.

Dia melanjutkan, perekonomian Indonesia di tahun 2019 masih akan dipengaruhi perkembangan sektor keuangan global. Kenaikan Fed Fund Rate mempengaruhi pergerakan kenaikan suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan. Namun demikian, dengan didukung oleh perbaikan kinerja perekonomian nasional, terjaganya inflasi dan nilai tukar, maka tekanan-tekanan yang berasal dari ketidakpastian perekonomian global diharapkan dapat diminimalisir.

"Untuk APBN, kita memperkirakan rata-rata Suku Bunga SPN 3 bulan tahun 2019 di kisaran 4,6-5,2%," ujarnya.

Sementara itu untuk harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada 2019, diperkirakan berada pada kisaran USD60-70 per barel. Sedangkan asumsi lifting minyak bumi diperkirakan mencapai 722-805 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 1.210-1.300 ribu barel setara minyak per hari.

(ulf)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini