nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Realisasi Asumsi Makro 2019 Tak Sesuai Target, Salah Siapa?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 07 Januari 2020 16:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 07 20 2150270 realisasi-asumsi-makro-2019-tak-sesuai-target-salah-siapa-29JAb1j2O3.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis data realisasi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebagian besar tercatat meleset dari target yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 5,05% pada akhir tahun 2019, meleset dari target yang sebesar 5,3%. Sri Mulyani menyebut, realiasi itu cukup baik ditengah kondisi ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Rasio Utang RI Masih Aman, Simak Penjelasannya!

Sepanjang 2019 ekonomi global dibayangi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang tak kunjung usai, proses Brexit yang berlarut-larut, hingga persoalan geopolitik di sejumlah negara. Hal ini membuat perdagangan dunia melemah dan ekonomi global turut melambat.

"Namun dengan tekanan tadi kita tetap mampu menjaga pertumbuhan di atas 5% yakni pertumbuhan yang diestimasi 5,3% realisasinya diperkirakan 5,05%,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Baca Juga: Penerimaan Cuma 84,4%, Kekurangan Pajak 2019 Capai Rp245,5 Triliun

Selain itu, realisasi tingkat bunga SPN 3 bulan juga tercatat sebesar 5,6% lebih tinggi dari pagu yang ditetapkan sebesar 5,3%. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) sepanjang 2019 pun tercatat mencapai USD62 per barel, lebih rendah dari asumsi yang sebesar USD70 per barel.

Sementara, realisasi inflasi hingga akhir tahun 2019 mampu terjaga rendah di 2,72%, masih dalam jangkar pemerintah yang sebesar 3,5%. "Realisasi inflasi masih relatif sangat baik, bahkan menjadi terendah dalam 20 tahun terakhir,” imbuhnya.

Nilai tukar pun tercatat terapresiasi 3,9% sepanjang tahun 2019, yakni di level Rp14.146 per USD, lebih rendah dari asumsi sebesar Rp15.000 per USD.

Namun lifting minyak tercatat hanya mencapai 741 ribu barel per hari, lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar 775 ribu barel per hari. Sedangkan untuk lifting gas hanya mencapai 1,05 juta barel setara minyak per haridari asumsinya sebesar 1,25 juta barel setara minyak per hari.

Sri Mulyani menyatakan, realiasi lifting, harga ICP, dan kurs rupiah telah berimbas besar pada kondisi penurunan penerimaan negara dalam Pajak Penghasilan (PPh) migas.

"Jadi dari sisi produksi lebih rendah, harga juga lebih rendah, dan kurs rupiah lebih kuat, membuat penerimaan dari migas mengalami tekanan. Sehingga terjadi penurunan cukup dalam dari migas," katanya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini