Daftar 10 Krisis Moneter Terburuk Sepanjang Sejarah

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 06 Juni 2018 10:41 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 06 20 1907165 daftar-10-krisis-moneter-terburuk-sepanjang-sejarah-9aASUvUZVn.jpg Ilustrasi: Koran Sindo

SISTEM kapitalisme saat ini menjadi salah satu sistem ekonomi yang diadopsi hampir mayoritas negara di dunia. Meski dengan berbagai variasinya dianggap sistem ekonomi terbaik namun kapitalisme ternyata juga menyimpan ancaman dalam dirinya berupa krisis moneter yang dampaknya bisa meluluhlantakkan perekonomian sebuah negara jika tidak diantisipasi.

Berikut 10 krisis moneter terburuk sepanjang sejarah:

Kepanikan Bank, 1907

Kepanikan pada 1907 terjadi karena terjun bebasnya pasar saham Dow lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya. Pemicunya adalah over-ekspansi dan spekulasi pasar yang buruk. Pasar saham jatuh pada Maret dan terulang kembali pada Oktober, menyebabkan hilangnya kepercayaan pada bank disusul bangkrutnya Bank Amerika Utara. Pada Februari 1908 kepercayaan publik mulai pulih dan pada Mei, Kongress menyetujui Undang-undang Aldrich-Vreeland Act dan membentuk Komisi Moneter Nasional untuk meredam setiap kepanikan pasar di masa datang.

grafik

Krisis Utang Sovereign Eropa, 2009 hingga kini

Inilah krisis moneter terkini yang berlangsung sampai hari ini dan tak ada seorang pun tahu kapan krisis ini akan berakhir. Saat ini pasar makin khawatir terhadap kemampuan sejumlah negara, khususnya Yunani, Irlandia, Spanyol, Portugal, dan Italia, untuk membayar utang mereka. Keterlibatan bank-bank Internasional yang terus memberi utang terhadap negara-negara ini diduga semakin membuat jatuhnya pasar.

Resesi Hebat, 2008

Pada 2008, bangkrutnya Bank Lehman Brothers yang memiliki aset bernilai USD600 miliar menjadi simbol dimulainya krisis moneter paling dramatis sejak masa Depresi Hebat. Penyebabnya berkaitan dengan dideregulasinya beberapa kebijakan sektor keuangan, kebijakan moneter yang buruk dan runtuhnya ekonomi internasional akibat tingkat utang tinggi di sektor publik dan swasta. Efek yang disebabkan krisis ini begitu hebat. Hingga Maret 2009, 45% dari kekayaan global telah lenyap akibat krisis ini.

grafik

"Dekade yang Hilang" dari Jepang, 1990-2000

Runtuhnya gelembung aset (asset bubble) di Jepang pada 1991 menyebabkan pertumbuhan ekonomi rendah dan berkepanjangan hingga 2000. Penyebab sebenarnya dari krisis ini adalah akibat tidak sehatnya spekulasi, tingginya angka kredit dan rendahnya tingkat suku bunga. Ketika pemerintah mencoba mengendalikannya, kredit semakin sulit didapat dan penyertaan modal turun drastis. Inilah penyebab melemahnya ekspansi ekonomi sepanjang 1990an, menjadikannya satu dekade yang hilang. Jepang beruntung dapat menghindari depresi, tapi efek di 1991 tersebut masih terasa sampai hari ini.

Krisis Rubel, 1998

Korupsi, kebijakan reformasi ekonomi yang tidak efektif, devaluasi nilai Rubel, dan ketidakstabilan politik membawa Rusia ke dalam krisis moneter masif. Selain itu, posisi Rusia sebagai eksportir sepertiga dari jumlah minyak dan gas di dunia, menyebabkan negeri beruang merah ini sangat rentan terhadap terjadinya fluktuasi harga minyak. Ketika investor asing menarik uangnya keluar Rusia, bank menjadi lumpuh dan dengan terpaksa meminjam pada IMF.

Hiperinflasi Jerman, 1918-1924

Meskipun hiperinflasi Jerman bukanlah yang terburuk dalam sejarah, tapi memiliki dampak paling hebat. Pada 1914, nilai tukar USD terhadap Mark Jerman sekitar 1 berbanding 4. Namun pada 1923, angka tersebut meledak hingga menjadi 1USD setara dengan 1 triliun (1.000.000.000.000) Mark Jerman. Sebagai buntut dari Perang Dunia I, "sang pemenang" membebankan biaya rekonstruksi akibat perang kepada Jerman, nilainya mencapai sepertiga dari defisit anggaran Jerman. Dengan memperkenalkan jenis mata uang baru pada 1923 yakni Rentenmark dan Reichsmark pada 1924, Jerman akhirnya dapat mengontrol inflasi tersebut.

grafik

The Great Depression, 1929

The Great Depression adalah depresi terpanjang dan paling parah dalam sejarah ekonomi global, berlangsung antara 1929 hingga pecahnya Perang Dunia II. Awal krisis ini ditandai dengan terpuruknya bursa Wall Street, yang menjadikannya sebagai keruntuhan paling dahsyat dalam sejarah pasar saham. Pada 29 Oktober 1929, USD10 miliar (nilainya sekitar USD95 miliar saat ini) lenyap ditelan bumi. Pada tahun-tahun menjelang Selasa Hitam (Black Tuesday), bursa saham Dow terlahir banyak jutawan. Pasar saham menjadi hobi bagi investor bodoh yang siap memborong saham perusahaan (banyak fiktif) tanpa mempelajari rekam jejaknya.

Krisis Minyak, 1973

Dibayang-bayangi perang Yom Kippur antara Suriah dan Mesir melawan Israel, OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia) menjadikan minyak sebagai senjata dengan cara melakukan embargo minyak terhadap pihak yang mendukung Israel. Biaya minyak mentah meningkat sementara produksi dipangkas, terutama untuk AS dan Belanda. Embargo hanya berlangsung selama lima bulan, namun efeknya terus dirasakan hingga kini. Pasar Saham New York kehilangan hingga USD97 miliar.

grafik

Senin Hitam (Black Monday), 1987

Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab terjadinya Black Monday pada 19 Oktober 1987. Yang jelas secara tiba-tiba miliaran USD hilang dari pasar saham seluruh dunia. Hong Kong kehilangan 45,8% dari total nilai sahamnya, Inggris kehilangan 26,4%, Australia lenyap 41,8% dan Selandia Baru drop hingga 60%. Perdagangan program, perselisihan kebijakan moneter serta kekhawatiran akan inflasi, semuanya ditengarai menjadi penyebab krisis ini.

Krisis Moneter Asia Tenggara, 1997

Awalnya banyak pengamat menyebut perekonomian Asia sebagai Macan Asia yang sedang bangkit dan segera menggantikan dominasi ekonomi barat. Namun tak butuh waktu lama untuk membalikkan pujian tersebut menjadi bencana besar yang dimulai pada Juli 1997. Ini berawal dari hilangnya kepercayaan investor pada mata uang Asia. Terjadilah efek domino, dimulai dari Thailand dan meluas ke Filipina, Hong Kong, Malaysia dan Indonesia dan terus menyebar hingga memicu krisis global. Pasar saham Thailand terkoreksi 75%, Hong Kong 23% dan Singapura anjlok hingga 60% serta nilai tukar Rupiah terdevaluasi hingga 90%.

(Koran Sindo/Bobby Firmansyah)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini