nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Inggris Terancam Krisis Setelah Dalang Brexit Mundur

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 10 Juli 2018 08:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 10 20 1920229 inggris-terancam-krisis-setelah-dalang-brexit-mundur-ewTlYZFTEj.png Foto: Inggris terancam krisis setelah dalang Brexit mundur (Reuters)

JAKARTA - Pemerintah Inggris terancam jatuh ke jurang krisis setelah Menteri Luar Negeri Boris Johnson memilih mundur hari Senin (09/07/2018) kemarin, terkait dengan rincian perundingan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, yang biasa dikenal dengan Brexit.

Sehari sebelumnya, menteri yang bertanggung jawab atas perundingan Brexit, David Davis, juga mengundurkan diri dari pemerintahan.

Keduanya meninggalkan pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Theresa May setelah kabinet menyepakati dokumen yang memerinci Brexit pada akhir pekan.

Dokumen ini antara lain berisi posisi Inggris yang tetap memilih menjalin hubungan dagang yang erat dengan Uni Eropa.

Foto: Perdana Menteri Inggris Theresa May (Reuters)

Davis mengatakan proposal baru yang akan dibawa PM May ke Uni Eropa memperlihatkan Inggris terlalu cepat mengalah' dengan permintaan Uni Eropa.

Baik Johnson maupun Davis dikenal sebagai politisi penting kubu Leave, kelompok yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa saat digelar referendum pada 2016.

Johnson diyakini tidak setuju dengan poin-poin Brexit yang disepakati kabinet, namun hingga Senin siang ia tidak mengeluarkan kritikan secara terbuka.

Editor politik BBC, Laura Kuenssberg, mengatakan mundurnya Johnson mempermalukan PM May dan membuat PM dalam posisi yang sangat sulit

Lura mengatakan Johnson bukan sekedar menteri dan perannya yang sangat instrumental selama kampanye referendum membuka spekulasi dia ingin menjadi pemimpin Partai Konservatif dan sekaligus sebagai PM Inggris.

Wakil ketua Partai Buruh yang beroposisi, Tom Watson, mengatakan bahwa pemerintah hancur.

"Ini jelas-jelas kacau negara terbelah, pemerintah kacau balau," katanya.

Untuk diketahui, Boris Johnson adalah politisi Partai Konservatif yang pernah menjabat sebagai wali kota London selama dua periode sebelum diangkat menjadi Menteri Luar Negeri.

Johnson dikenal sebagai figur yang flamboyan dan sejak awal tidak menginginkan Inggris berada di blok Uni Eropa.

Johnson juga aktif berkampanye di kubu Leave dan bersama Davis menggalang suara bagi kemenangan kelompok yang pro-Brexit.

Ketika referendum dimenangkan oleh kubu Leave, yang diikuti dengan mundurnya PM saat itu, David Cameron, Johnson dianggap sebagai salah satu kandidat kuat untuk menjadi PM.

Perkembangan internal di kubu Leave dan di Partai Konservatif mendorong Johnson memikirkan ulang keinginannya menjadi PM dan ia memilih mendukung Theresa May untuk menjadi PM Inggris.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini