nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjalanan di Balik Harga Telur Ayam yang Meroket

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 17 Juli 2018 11:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 17 320 1923365 perjalanan-di-balik-harga-telur-ayam-yang-meroket-pZotMjBUfl.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Pertemuan antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Satuan Tugas (Satgas) Pangan, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU), hingga asosiasi peternak ayam, dapat diketahui penyebab kenaikan harga telur ayam.

Permintaan yang tinggi terhadap komoditas ayam dan telurnya, namun tak dibarengi ketersediaan pasokan membuat harga telur kini melambung.

Berdasarkan Info Pangan Jakarta, harga telur tertinggi Rp31.000 per kilogram (kg) yang berada di Pasar Pulo Gadung, kemudian harga terendah Rp23.000 per kg di Pasar Cempaka Putih. Sehingga harga rata-rata telur di Jakarta Rp28.395 per kg.

Adapun, harga telur ayam tertinggi terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti di Maluku Utara yang mencapai Rp37.850 per kg dan Papua yang sebesar Rp35.500 per kg.

 Intip Pekerja Sortir Telur di Gudang Bahan Pokok Pasar Induk Tau Banten

Hal ini menyusul terganggunya produktivitas ayam petelur. Beberapa penyebabnya yakni pelarangan pemakaian antibiotic growth promotor atau AGP yang membuat daya tahan hidup ayam berkurang. Adapun pelarangan oleh pemerintah membuat kualitas ternak ayam lebih baik dan tak mengandung obat-obatan.

"Pemerintah larang itu sekarang dan itu langkah yang baik. Konsekuensinya berdampak pada kesehatan ayam, lebih rentan sakit. Saat ini (pasokan ayam petelur) turun 5%-10% karena penyakit," ungkap Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Feri di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin, 16 Juli 2018.

Selain itu, kondisi libur panjang Lebaran juga turut berkontribusi, di mana pekerja yang libur membuat kegiatan memproduksi ayam petelur tak dapat dilakukan, maka pasca libur peternak hanya mengandalkan stok ayam petelur lama.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Heri Dermawan menjelaskan, kemungkinan peternak libur sejak tanggal 15-22 Juni 2018, di masa itu tak ada kegiatan menghasilkan telur baru atau bibit ayam baru. Maka, proses menghasilkan telur dilakukan sejak 23 Juni 2018, dengan waktu panen yakni satu bulan atau jatuh di 23 Juli 2018.

"Sekarang memang sangat kurang ayam karena tadi. Kan pas H-7 sama H+7 Lebaran, pekerja ingin libur dan harus libur. Kalau kita enggak libur karyawan, kan salah juga," jelasnya.

 Harga Telur Ayam Terus Naik selama Sepekan Terakhir

Kondisi berkurangnya pasokan ayam ini, membuat produksi telur pun berkurang. Sehingga permintaan yang melonjak tak dibarengi dengan pasokan yang cukup membuat harga telur meningkat.

"Produktivitas berkurang permintaan meningkat, otomatis harga naik," lanjutnya.

Pemicu permintaan yang tinggi pun beragam. Konsumsi telur dan ayam di tingkat masyarakat tak hanya meningkat saat Ramadan, juga melonjak saat Lebaran bahkan setelahnya. Hal ini didorong juga dengan ajang piala dunia, hajatan, hingga program bantuan sosial (bansos) yang diberikan pemerintah.

"Permintaannya meningkat tajam dari liburan sama sepak bola dunia. Orang malam-malam saat nonton banyak beli makan, nasi goreng dan sebagainya yang menggunakan telur," ungkap Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, semalam.

 

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Feri juga mengakui, permintaan yang tinggi juga didorong banyaknya hajatan yang digelar masyarakat. "Iya, itu juga salah satunya, permintaan memang sangat tinggi sekali," katanya.

Sementara Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fini Murfiani mengungkapkan, bansos mengambil andil dari lonjakan konsumsi telur.

"Kementerian Sosial ada bantuan non tunai ke masyarakat miskin yang di Jakarta, yang harganya di subsidi. Ada pembagian telur untuk rumah tangga miskin, itu pun menambah volume (permintaan)," ungkapnya.

 Harga Telur Ayam Terus Naik selama Sepekan Terakhir

Kondisi permintaan yang tinggi ini, dinilai Fini tak diantisipasi dengan baik, sehingga pasokan telur pun tak tersedia mencukupi. "Itu memang tidak diprediksi sehingga peningkatan permintaan itu tinggi sekali. 20%-30% terjadi kenaikan permintaan," katanya.

Kenaikan ini pun diduga, adanya kesempatan dalam pelaku mata rantai dagang yang memanfaatkan kondisi dengan menaikkan margin keuntungan. Mengantisipasi kondisi ini, Kemendag telah meminta kepada pihak-pihak tersebut untuk tidak mengambil keuntungan yang berlebih.

"Kita juga minta mereka beri data (suplai telur). Bagi yang tidak daftar akan kami tindak. Kami didukung dan ditopang oleh Satgas Pangan," tegas Enggar.

Selain itu, pihaknya juga memberi waktu selama seminggu untuk pihak-pihak yang berada dalam rantai perdagangan telur dapat menurunkan harga. Hal ini bukan berarti harga telur akan langsung jatuh di harga normal, setidaknya harga akan turun secara bertahap.

"Kita sepakat memberikan batas waktu satu minggu. Bukan berarti langsung turun tapi ada penurunan bertahap," tukasnya.

 Intip Pekerja Sortir Telur di Gudang Bahan Pokok Pasar Induk Tau Banten

Kendati dalam seminggu tak terjadi penurunan harga seperti yang diinginkan, maka Kemendag akan melakukan intervensi pasar dengan meminta para integrator besar untuk mengeluarkan suplai telur ke pasar, sehingga melakukan penjualan tanpa mata rantai yang panjang.

"Itu seperti operasi-operasi (pasar) yang pernah kita lakukan.Tapi kalau dalam seminggu harga bisa turun, tentu tidak perlu intervensi, sebab akan distrorsi pasar," jelas dia.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini