7 Fakta Harga Ayam Mahal, Nomor 6 Paling Ekstrim

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 24 Juli 2018 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 24 320 1926477 7-fakta-harga-ayam-mahal-nomer-6-paling-ekstrim-SNURjlSw0v.jpg Ilustrasi Penjual Daging Ayam di Pasar Tradisional (Foto: Okezone)

JAKARTA - Setelah gejolak harga telur ayam mulai mereda alias harga turun tipis, kini giliran harga daging ayam yang meroket di pasar.

Berikut 7 fakta mengapa harga daging ayam melonjak.

1. Sejumlah argumen dilontarkan baik oleh pemerintah maupun dari asosiasi peternak unggas. Mulai soal dampak terpuruknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), nutrisi pakan ternak yang semakin minim sehingga berpengaruh pada produksi ayam dengan pertumbuhan yang melambat, hingga pengaruh musim yang menyebabkan produksi ayam di bawah target para peternak.

Boleh jadi argumen tersebut semua benar, tetapi di antara argumentasi yang paling logis menjelaskan kenaikan harga daging ayam adalah dampak dari kurs Rupiah yang makin loyo terhadap dolar AS. Mengapa? Sebagian besar komponen pakan ternak mesti didatangkan dari luar negeri.

Pasokan Berkurang, Harga Telur Ayam di Aceh Naik Sepekan Terakhir

2. Meski demikian, tetap menarik mendengar argumentasi dari Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) yang menuduh sumber di balik kenaikan harga daging ayam karena kualitas pakan yang semakin rendah padahal harganya kian melonjak.

Kualitas pakan yang rendah menyebabkan pertumbuhan ayam melambat sehingga produksi ayam dari peternak tidak maksimal. Sebenarnya, penurunan produksi ayam telah berlangsung sejak awal tahun hal itu ditandai naiknya harga daging ayam sebesar Rp21.000 per kg dari sebelumnya sebesar Rp18.000 per kg di tingkat peternak.

Harga Telur Ayam Terus Naik selama Sepekan Terakhir

3. Selain disebabkan kualitas pakan yang rendah, Ketua Umum PPUN Sigit Prabowo membeberkan faktor pangsa pasar peternak mandiri sangat terbatas hanya sekitar 10%, bagian terbesar dikuasai dan dikendalikan oleh industri ternak skala besar.

4. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) meyakini melonjaknya harga daging ayam sangat dipengaruhi penguatan dolar AS terhadap rupiah yang sempat bertengger di level Rp14.500. Pasal nya, bahan pakan ternak sekitar 30% masih impor di antaranya vitamin, bungkil kedelai, namun nilainya mencapai sekitar 60%. Adapun sumber impor bahan pakan ternak berasal dari lima negara, meliputi Australia, AS, Brasil, China dan Argentina.

(feb)

5. Kenaikan harga pakan ternak sudah berkisar Rp300 per kg, harga pakan ayam ras petelur (layer) yang semula Rp6.000 per kg, kini menjadi Rp6.300 per kg dan pakan ayam broiler dari Rp7.000 per kg menjadi Rp7.300 per kg.

Dengan demikian, setiap penguatan mata uang dolar AS terhadap Rupiah pasti menyeret harga pakan ternak yang berbuntut pada kenaikan harga daging ayam. Masalahnya, pengaruh kenaikan harga daging ayam sudah memprihatinkan untuk sejumlah wilayah terutama di Pulau Jawa. Keluhan para pedagang ayam seragam, yakni pasokan daging ayam dari peternak sangat minim.

Di Pasar Pa Baeng-Baeng Makassar, Harga Ayam Potong Naik Rp15 Ribu/Ekor

6. Tindakan ekstrim terpaksa ditempuh sejumlah peda gang di pasar tradisional Kabupaten Sleman, DIY Yog yakarta, yang memilih tidak menjual daging ayam ketimbang harus menaik kan harga. Keterangan resmi yang dikutip media massa dari Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Tri Endah Yitnani mengakui harga daging ayam pada enam pasar tradisional di wilayah daerah penghasil buah salak itu berada pada level sebesar Rp41.000–Rp43 kg. Kenaikan harga daging ayam juga terjadi di wilayah Jakarta sejak pekan kemarin.

7. Upaya pemerintah untuk meminimalisir impor bahan pakan ternak. Kementerian Pertanian (Kementan) sudah memunculkan wacana melakukan substitusi atau mengganti bahan pakan ternak yang terdampak penguatan dolar AS, misalnya mengganti bungkil kedelai menjadi sorgum sejenis rumput-rumputan yang masih satu keluarga dengan padi, jagung dan gandum, yang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi.

Di Pasar Pa Baeng-Baeng Makassar, Harga Ayam Potong Naik Rp15 Ribu/Ekor

Tentunya upaya substitusi pakan ternak ini tidak bisa ditunda lagi mengingat kecenderungan terus menguatnya dolar AS semakin tak tertahankan. Apalagi dampak penguatan dolar AS terhadap rupiah mulai merambah kehidupan langsung masyarakat.

Dan, sebentar lagi akan terdengar kenaikan harga untuk berbagai komoditas pangan ber bahan impor, di antaranya tempe makanan favorit masyarakat Indonesia yang berbahan kedelai. Pasalnya, kedelai masih diimpor langsung dari Amerika Serikat.

(feb)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini