nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saingi Singapura, Pelabuhan Tanjung Priok Layani Fungsi Transhipment

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 11:26 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 13 320 1935720 saingi-singapura-pelabuhan-tanjung-priok-layani-fungsi-transhipment-3TKLRamOLp.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA – Pelabuhan Tanjung Priok diharapkan mampu melakukan fungsi transhipment agar bisa bersaing dengan pelabuhan internasional lain seperti Pelabuhan Singapura.

Pengamat maritim dari ITS Saut Gurning mengatakan, saat ini Pelabuhan Singapura mempunyai pola pelayanan yang lebih bersifat transit (transhipment). Sementara pelabuhan di Indonesia lebih mengarah pada pola layanan sebagai pelabuhan bongkar (destination port).

“Namun jika dilihat dari operasional di Pelabuhan Tanjung Priok, pertumbuhannya makin membesar dan cepat,” kata Saut dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Kondisi Tanjung Priok saat ini dibanding lima tahun yang lalu, misalnya, cukup pesat kemajuannya. Trafik kontainer, baik dari kapasitas terpasang sekitar 6 juta-7 juta TEUs, tumbuh dua kalinya yaitu 11 juta- 12 juta TEUs.

 Defisit Neraca Perdagangan

Akses darat ke dan dari pelabuhan bertambah. Penambahan peralatan dan penataan wilayah operasi mulai gate, container yard, dermaga, hingga CFS juga terlihat banyak ada ekspansi.

Meski begitu, menurut Saut, ada indikasi pertumbuhan kapasitas itu masih kurang dari percepatan kebutuhan layanan akan kapal, barang termasuk aksesibilitas darat dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok yang sepertinya masih lebih besar dari kapasitas yang ada.

"Tata ruang di sekitar Priok tampaknya sudah jenuh. Fakta kemacetan terbatasnya ruang simpan kontainer serta makin terbatasnya ruang parkir truk juga terbatasnya ruang penambahan lokasi operasi ini menjadi fakta eksis Priok saat ini,” paparnya.

Saat ini PT Pelindo II atau Indonesia Port Corporation (IPC) memang berencana menambah kantong parkir truk kontainer (buffer area) di kawasan Priok.

Perseroan saat ini sedang membangun buffer area yang mampu menampung sekitar 12.000 truk kontainer per hari. Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa buffer area tersebut telah beroperasi, maka ada harapan untuk mengurangi kepadatan di kawasan pelabuhan, meskipun sumber kemacetan sebenarnya juga bisa dari faktor luar.

 Defisit Neraca Perdagangan

Tidak efektifnya jalan tol di area pelabuhan karena tarifnya yang terlalu mahal, misalnya, sudah banyak dikeluhkan sopir truk dan pengusaha logistik.

“Memang kalau melihat pola transhipment, Pelabuhan Tanjung Priok atau pelabuhan lain di Indonesia cenderung menjadi pengumpan atau feeder dari pelabuhan Singapura,” ujarnya.

Namun, untuk kebutuhan domestik fungsi pelabuhan nasional cukup baik karena mampu menangani kargo domestik, termasuk kargo internasional. Agar semua kargo nasional terkonsolidasi di dalam negeri via pelabuhan nasional semisal Tanjung Priok dibutuhkan pelabuhan yang mampu melaku kan fungsi transhipment.

Terpisah, Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya menyatakan, saat ini Indonesia sudah berada di jalur yang tepat untuk menjadi poros maritim dunia. Keberadaan kapal-kapal terbesar ini menunjukkan bahwa IPC siap mengelola pelabuhan bongkar muat terbesar di Indonesia. (Heru Febrianto)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini