nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo: Fintech Harus Konstruktif dan Positif, Jangan Ciptakan Pengangguran

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 12 Oktober 2018 08:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 12 20 1962953 ketum-partai-perindo-hary-tanoesoedibjo-fintech-harus-konstruktif-dan-positif-jangan-ciptakan-pengangguran-QYsg0fFX3E.jpg Foto: Hary Tanoesoedibjo di IMF-World Bank

BADUNG - Fintech harus dibagi menjadi dua persepektif, yaitu network dan konten atau aplikasinya. Untuk aplikasi Indonesia harus cermat dalam melangkah agar tidak berakhir menjadi pasar dari asing.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Partai Perindo saat ditemui di pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia yang dihadiri seluruh Menteri Keuangan dari 189 negara di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

"Network itu seperti sambungan internet atau broadband harus dikembangkan karena itu bisa mempercepat aktivitas ekonomi," ungkapnya.

Baca Juga: Hary Tanoesoedibjo: IMF-World Bank 2018 Akan Tingkatkan Investasi, Pariwisata, Lapangan Kerja & Konsumsi

Dengan koneksi internet masyarakat di daerah bisa menikmati informasi, komunikasi dengan cepat.

Sementara dalam persepektif kedua yaitu konten atau aplikasinya harus dipastikan konstruktif dan positif bagi pembangunan bangsa. Misalnya aplikasi untuk pendidikan, aplikasi untuk kesehatan.

"Tapi kita harus hati-hati dengan aplikasi yang kontraproduktif yang bisa mengurangi lapangan kerja," tegas HT.

Misalnya saja e-commerce yang bila tidak diatur akan memberikan dampak negatif pada industri UMKM. Apalagi pelaku e-commerce terhitung jor-joran mensubsidi dengan barang yang murah di rentang Rp500.000 hingga Rp1 juta.

Hal tersebut bisa mengurangi pendapatan, mengganggu hingga mematikan usaha UMKM. ujung-ujungnya meningkatkan pengangguran.

Baca Juga: Hari Kelima, Presiden Jokowi Buka Puncak Acara Pertemuan IMF-World Bank

Padahal UMKM menjadi salah satu sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, UMKM menyerap tenaga kerja lebih dari 114 juta orang di hampir 58 juta unit usaha.

"Kita harus hati-hati, kita menyambut baik perkembangan fintech tapi pastikan kondisi Indonesia beda dengan kondisi negara maju. Jangan sampai mengurangi lapangan kerja menimbulkan masalah baru," kata HT. 

Indonesia membutuhkan lapangan kerja menghadapi pesatnya pertumbuhan usia produktif karena bonus demografi.

Di saat lapangan kerja tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan pencari kerja, kesejahteraan akan meningkat. Namun bila pertumbuhan lapangan kerja tidak dapat mengimbangi pertumbuhan pencari kerja, kesejahteraan akan sulit meningkat.

 (Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini