Share

Cikarang Waterways, Jalur Khusus Angkutan Kontainer di Sungai dan Laut

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 15 Oktober 2018 11:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 15 320 1964116 cikarang-waterways-jalur-khusus-angkutan-kontainer-di-sungai-dan-laut-3x2LGJ0Mrq.jpg Ilustrasi: Koran Sindo

JAKARTA – Proyek infrastruktur berskala besar terus digalakkan untuk mengejar efisiensi logistik di Tanah Air. Setelah sejumlah jalan tol dioperasikan, kini jalur perairan yang akan dioptimalkan untuk angkutan logistik.

Jika tidak ada aral melintang, PT Pelindo II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) akan menggarap jalur khusus untuk angkutan kontainer dengan memanfaatkan kanal sungai dan laut di wilayah Bekasi menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok 

Proyek yang dinamakan Cikarang-Bekasi Laut Waterways (Inland Water ways) itu rencananya menelan investasi sekitar Rp3,4 triliun dan ditargetkan rampung pada 2021. Proyek tersebut digadang-gadang bisa mengurangi kepadatan arus lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek dan sebaliknya yang kerap dikeluhkan pengguna karena sering macet.

Pembangunan Inland Waterways juga di harapkan bisa mengoptimalkan konektivitas area off-the-road Pelabuhan Tanjung Priok dengan area hinterland di timur Jakarta.

Baca Juga: Pelindo I Ditunjuk sebagai Operator Pelabuhan Internasional Kuala Tanjung

“Dengan Cikarang-Bekasi Laut Waterways, diharapkan angkutan kontainer dari Tanjung Priok akan di angkut melalui jalur sungai hingga ke area industri di Cikarang,” ujar Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya belum lama ini.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya juga mengatakan, dengan kanal ini diharapkan nantinya biaya logistik mampu dihemat hingga 20-25%. “Pembangunan proyek ini bertujuan optimalisasi jalur kanal sungai sebagai alternatif transportasi logistik yang menghubungkan area Tanjung Priok,” sebutnya.

Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok 

Berdasarkan keterangan dari situs Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPID), pada tahap pertama sistem transportasi Inland Waterways akan memanfaatkan kanal eksisting yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yaitu Cikarang-Bekasi Laut melewati Marunda, Jakarta Utara.

Adapun untuk tahap berikutnya, PT Pelindo II berencana menambahkan rute kanal dari Tanjung Priok menuju Cikampek dengan kanal akan menghubungkan arus logistik dari Tanjung Priok menuju kawasan industri Cibitung-Cikarang di Bekasi serta di Cikampek, Karawang.

Baca Juga: Layanan Pelabuhan Bakal Disetarakan dengan Fasilitas Bandara

Dengan hadirnya infrastruktur tersebut, alternatif pengangkutan logistik di daerah industri akan semakin beragam. Seperti diketahui, pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah juga sedang mengembangkan Pelabuhan Patimbandi Subang, Jawa Barat, yang ditujukan untuk mengurangi kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pelabuhan Patimban juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi angkutan logistik karena lokasinya yang berdekatan dengan daerah industri di Jawa Barat bagian utara. Hal itu diamini Direktur Teknik dan Manajemen Risiko Pelindo II Dani Rusli Utama.

Menurutnya pembangunan Terminal dan Inland Waterways Cikarang-Bekasi ini sebagai alternatif moda transportasi yang diharapkan bisa mengurangi kepadatan arus logistik jalur darat dari kawasan industri Cikarang dan Karawang menuju Pelabuhan Tanjung Priok atau sebaliknya.

Baca Juga: Pelabuhan Pantoloan Dioptimalkan Angkut Logistik untuk Korban Bencana Palu

“Untuk jangka waktu, pembangunan sekitar tiga tahun dan diperkirakan rampung pada 2021 mendatang,” kata Dani. Saat ini, menurut Dani, perseroan masih dalam tahap perampungan proses perizinan dan perencanaan teknis. Selain itu terdapat pula pengajuan keikutsertaan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur tersebut.

Dia mengungkapkan, keuntungan pembangunan proyek Inland Waterways adalah memberikan moda transportasi alternatif yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan, yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Kawasan Industri di timur Jakarta.

Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Raden Agus Hartoyo Purnomo mengatakan, direktorat yang dipimpinnya saat ini tengah menunggu dukungan regulasi atas rencana pembangunan proyek Cikarang-Bekasi Laut.

Menurut dia, perizinan untuk proyek yang diperkirakan menelan biaya sekitar Rp3,4 triliun tersebut tidak hanya melalui Kementerian Perhubungan, tetapi juga stake holder terkait lainnya.

Baca Juga: Lepas dari Jasa Marga, Refly Harun Berlabuh ke Pelindo I

“Kalau kita pasti mendukung dari sisi perizinan. Cuma kan tahapan perizinannya itu banyak yang harus dilalui dan melibatkan kementerian teknis lainnya seperti Kementeian Lingkungan Hidup maupun Kementerian Pekerjaan Umum. Kalau sudah perizinannya melewati berbagai tahapan dan sampai di kami tentu kami akan uji dan mendukung secepatnya,” ujar dia. Meski begitu dia menyebutkan bahwa proses studi kelayakan atau feasibility study masih dipersiapkan PT Pelindo II.

Selain melibatkan kementerian teknis dalam hal perizinan, proyek ini juga membutuhkan koordinasi pemerintah daerah. Sebab Cikarang-Bekasi Laut memanfaatkan kanal kali yang menghubungkan Kota Bekasi dan Jakarta.

Pemerintah Jawa Barat melalui Gubernur Ridwan Kamil juga memberikan perhatian pada proyek raksasa tersebut. Ridwan bahkan turut “mempromosikan” proyek Inland Waterways itu melalui akun Instagram pribadinya.

Di akun tersebut dia menjelaskan bahwa proyek kanal lebar dari laut yang masuk ke daratan itu diharapkan bisa menjadi solusi kemacetan di jalur Cikampek- Jakarta. Selain itu pada sebuah diskusi di Gedung Sate akhir September lalu, Ridwan Kamil juga menyatakan bahwa proyek jalur air (waterway way ) Cikarang-Bekasi Laut (CBL) merupakan satu dari sembilan proyek infrastruktur besar di Jawa Barat.

Kesembilan infrastruktur tersebut adalah reaktivasi empat jalur kereta api, perpanjangan landasan pacu (runway) Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), pembatas jurang (road barrier), dan bandara baru di Sukabumi.

Pelayanan Lamban karena SDM Kurang, Puluhan Truk Kontainer Antre di Tanjung Priok

Selain itu jalur khusus angkutan tambang di Parung Panjang, jalur kereta api ganda Bogor-Sukabumi, Terminal Parung, jalur air Cikarang- Bekasi Laut (CBL), dan Pelabuhan Patimban.

Perlu Koordinasi Kuat

Pengamat kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Raja Oloan Saut Gurning mengatakan, pembangunan proyek Cikarang-Bekasi Laut membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Menurut dia, proyek tersebut juga membutuhkan koordinasi banyak pihak, bukan hanya satu kementerian, tetapi banyak kementerian. “Sehingga pemerintah harus menjadi pionirnya. Kalau hanya mengandalkan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) semata, itu tidak akan bisa,” ujar dia kepada KORAN SINDO.

Defisit Neraca Perdagangan

Menurutnya, peran pemerintah pusat sangat diperlukan mengingat pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat sudah merespons perlunya membangun kanal logistik yang menghubungkan wilayah Jakarta dan Jawa Barat itu.

“Pemerintah pusat saya kira bisa memanfaatkan berbagai macam skema untuk mengucurkan pendanaan. Misalnya siapa yang membebaskan lahannya, tinggal berbagi tugas. Selanjutnya berbagi saham jika saja sudah selesai,” ungkapnya.

Pada proyek seperti Cikarang-Bekasi Laut sebagaimana halnya proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati, pemerintah berperan membangun sisi udara dan terminal. Adapun lahan disiapkan oleh pemerintah daerah setempat.

“Sedangkan untuk proyek Cikarang-Bekasi Laut saya kira ini bisa melibatkan dua pemerintah daerah antara Pemerintah Jawa Barat dan Pemerintah DKI Jakarta,” ucapnya. Dia menambahkan, terwujudnya proyek Cikarang-Bekasi Laut bisa memberikan efisiensi yang besar distribusi logistik dari Jakarta ke wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

“Kalau proyek ini terwujud, akan banyak efisiensi logistik yang bisa dicapai. Terutama angkutan truk tidak perlu lagi menuju ke arah Jawa Barat dan sekitarnya, cukup point to point dari gudang ke dermaga CBL,” sebutnya.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perhubungan sangat mendukung keberlangsungan proyek tersebut. Sebab terwujudnya kanal baru arus barang dari darat ke sungai atau laut bisa diwujudkan mengingat jalur darat untuk logistik saat ini sudah sangat padat.

Defisit Neraca Perdagangan

“Kita bahkan sudah terus melakukan sosialisasi kepada pengusaha bahwa banyak alternatif transportasi yang bisa dimanfaatkan untuk mengirim logistik selain lewat jalur darat. Ini akan kita dorong terus,” ungkapnya.

Sementara itu Elvyn G Masassya menjelaskan, selain proyek kanal laut Inland Waterways, perseroan juga tengah menggarap lima proyek utama yang bertujuan meningkatkan daya saing dan menekan biaya logistik nasional hingga 3,6%.

“Jadi kalau mau berdaya saing harus diperbaiki bisnis distribusinya sampai ke hilir, ini strategi kita sebagai pengelola pelabuhan, dengan harapan pada 2020 bisa menjadi world class port,” kata Elvyn kepada KORAN SINDO di Jakarta belum lama ini.

Kelima proyek strategis tersebut adalah New Priok Development (Kalibaru) dengan total investasi sebesar Rp14 triliun, Kijing Deep Sea Port di Kota Pontianak dengan investasi Rp5,02 triliun, Pelabuhan Sorong dengan investasi Rp3,2 triliun, dan terakhir Pelabuhan Tanjung Carat di Sumatera Selatan. “Dari seluruh proyek strategis tersebut, kami akan menggunakan kas internal perusahaan, kami belum berencana melakukan obligasi lagi,” imbuhnya.

(Ichsan Amin/ Heru Febrianto/ Sindonews)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini