Share

Mark Dynamics Raup Laba Bersih Rp58,83 Miliar pada Kuartal III-2018

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 26 Oktober 2018 17:42 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 26 278 1969376 mark-dynamics-raup-laba-bersih-rp58-83-miliar-pada-kuartal-iii-2018-x5hiyjRH7m.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) mencatatkan laba bersih di triwulan III-2018 sebesar Rp58,83 miliar. Angka tersebut meningkat 82,88% dibandingkan periode yang g sama tahun lalu yang hanya meraup Rp32,17 miliar.

Pencapaian laba bersih pada kuartal III-2018 ini juga berhasil melampaui capaian target di tahun lalu. Yang mana pada tahun lalu MARK berhasil meraup laba bersih Rp49,25 miliar.

Presiden Direktur MARK Ridwan menyatakan pencapaian ini tidak lepas dari tercapainya peningkatan penjualan pada triwulan Ketiga tahun 2018. Adapun penjualan di triwulan ketiga perusahaan mencapai Rp240,45 miliar meningkat 35,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya meraup total penjualan sebesar Rp 177,79 miliar.

"Tercapainya penjualan pada periode ini bahkan lebih baik dari penjualan sepanjang tahun 2017 sebesar Rp239,79 miliar dan berhasil melampaui target yang telah ditetapkan manajemen," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (26/10/2018).

Baca Juga: Mark Dynamics Catat Kenaikan Laba 132%, Jadi Rp49,2 Miliar

Pada periode ini ekspor masih menjadi kontributor penjualan terbesar, dengan total penjualan sebesar Rp228,66 miliar atau mencapai 95,10% dari total penjualan. Nilai ini lebih baik dari penjualan ekspor pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya meraup nilai sebesar Rp167,79 miliar atau 94,44% dari total penjualan.

Dari sisi total unit penjualan hand former, tercatat peningkatan jumlah penjualan menjadi 4,78 juta unit. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 28,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,72 juta unit.

Pencapaian yang diraih perusahaan juga tidak lepas dari keberhasilan menjaga tingkat efisiensi seraya mempertahankan kualitas produk sesuai permintaan pelanggan. Hal ini terlihat dari tercapainya laba kotor sebesar Rp104,85 miliar, dengan marjin laba kotor sebesar 43,61%.

Baca Juga: Naik 2 Kali Lipat, Laba Mark Dynamics Tembus Rp15 Miliar di Semester I

Sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat laba kotor hanya sebesar Rp 63,88. Adapun marjin laba kotornya sebesar 35,93%.

Perseroan juga berhasil menjaga tingkat biaya operasional yang lebih rendah, melalui pencapaian laba sebelum pajak pada Triwulan Ketiga tahun 2018 sebesar Rp80,83 miliar dengan marjin laba sebesar 33,62%. Peraihan ini lebih baik dari kinerja periode yang sama tahun 2017 dengan mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp44,65 miliar dengan marjin laba sebesar 25,12%.

“Kami berhasil menjaga tingkat biaya yang rendah meskipun terjadi fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sepanjang Triwulan Ketiga tahun 2018, dimana pada pos pendapatan dan beban lain-lain, kami mencatat laba selisih kurs sebesar Rp 1,42 miliar padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya mencatat rugi selisih kurs sebesar Rp 652,96 juta," jelas Ridwan.

Seiring kinerja yang membaik, perseroan juga mencatatkan pertumbuhan Total Aset per 30 September 2018 menjadi Rp303,87 miliar, dengan peningkatan sebesar 33,51% dibandingkan posisi 31 Desember 2017. Aset Lancar tercatat mengalami peningkatan sebesar 20,60% menjadi Rp161,49 miliar.

Peningkatan yang lebih besar tercatat pada posisi Aset Tidak lancar yaitu sebesar 51,97% menjadi sebesar Rp93,69 miliar. Peningkatan Aset Tidak lancar disebabkan oleh adanya pembelian lahan untuk ekspansi Perseroan dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar.

Peningkatan permintaan akan produk cetakan sarung tangan seiring dengan terus meningkatnya produksi sarung tangan dari pelanggan utama kami di Malaysia. Seperti diketahui, Malaysia adalah pemasok sekitar 61% sarung tangan karet dunia. Malaysia tahun ini diharapkan dapat memasok sebesar 63 % dari pangsa pasar dunia sementara Indonesia hanya memiliki pangsa pasar sebesar 3%.

Pertumbuhan di industri sarung tangan adalah sekitar 15%, dimana Amerika Serikat merupakan masih pembeli terbesar, kemudian disusul negara Eropa. Dalam 20 tahun terakhir industri sarung tangan maju pesat.

Pada posisi Ekuitas per 30 September 2018, tercatat peningkatan sebesar 28,43% menjadi Rp 214,28 miliar dibandingkan posisi 31 Desember 2017 .

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini