Share

Kerjasama dengan Uni Eropa, Indonesia Bisa Daur Ulang Sampah Reruntuhan Gedung

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 28 Oktober 2018 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 28 320 1969950 kerjasama-dengan-uni-erpoa-indonesia-bisa-daur-ulang-sampah-reruntuhan-gedung-OrIiYgrKRS.jpeg Menteri PUPR Bersama dengan Komisioner Uni Erpoa (Foto: Dokumentasi Kementerian PUPR

JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menerima kunjungan delegasi Uni Eropa yang dipimpin oleh Komisioner Uni Eropa Bidang Lingkungan, Maritim, dan Perikanan, Karmenu Vella di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat lalu. Dalam pertemuan tersebut dibahas peluang kerjasama di bidang pengelolaan sampah, terutama terkait daur ulang sampah menjadi produk baru yang siap pakai.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan dalam pertemuan tersebut perwakilan Uni Eropa membawa dua teknologi untuk pemanfaatan sampah. Kedua teknologi tersebut yakni daur ulang sampha plastik dan daur uang sampah sisa reruntuhan gedung.

“Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa saat ini di Uni Eropa sampah tidak dilihat lagi hanya sebagai limbah, tetapi sebagai aset karena semua sampah bisa di daur ulang. Ada dua teknologi yang disampaikan yakni daur ulang sampah plastik dan teknologi daur ulang sampah sisa reruntuhan gedung atau bangunan yang katanya juga bisa didaur ulang,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (28/10/2018)

Tawaran peluang kerjasama tersebut disambut baik oleh Menteri Basuki, karena Indonesia juga tengah mengurangi jumlah sampah melalui pembangunan infrastruktur pengolahan sampah dan melibatkan masyarakat dalam proses reduce, reuse dan recycle (3R).

Dikatakan Menteri Basuki, untuk teknologi daur ulang sampah reruntuhan bangunan tersebut terbilang sederhana. Sebab teknologi tersebut cukup simpel dan tergolong murah, pasalnya teknologi tersebut bisa dilakukan tanpa memerlukan sistem yang harus dibangun seperti membangun pabrik.

“Tadi saya tanya teknologinya apakah butuh pembangunan tempat pengolahan sampah seperti pabrik, menurut mereka tidak perlu. Semua sisa reruntuhan bangunan yang ada tersebut cukup dilebur menjadi satu dengan alat semacam penghancur batu, untuk kemudian diolah,”ucapnya.

Sementara itu, Komisioner Uni Eropa Bidang Lingkungan, Maritim, dan Perikanan, Karmenu Vella mengatakan telah adanya working grup antara Eropa dan Indonesia. Nantinya, uni eropa akan mengajak Indonesia untuk membahas mengani aksi nyata pengelolaan sampah.

“Saya mengajak Menteri PUPR untuk bergabung dalam working group ini untuk membahas terkait aksi nyata pengelolaan sampah,” ujarnya

Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis ERCTech Petr Marek, selaku pimpinan perusahaan yang mengembangkan teknologi daur ulang sampah sisa reruntuhan gedung atau bangunan mengatakan, teknologi yang baru dipatenkan oleh perusahaannya pada Maret 2018 tersebut dapat mengolah semua jenis sisa bahan bangunan. Sebut saja sepertibata, keramik, dan pasir tanpa perlu dipilah.

“Semua dapat dilebur menjadi satu untuk diolah ulang menjadi product baru berupa beton (new concrete),” ujarnya.

Terkait pemanfaatan pengolahan limbah, Kementerian PUPR melalui Balitbang juga telah mengembangkan teknologi campuran aspal plastik dan aspal karet. Bahkan, Kementerian PUPR telah melakukan ujicoba penerapan campuran aspal plastik di beberapa kota seperti Jakarta, Bekasi, Denpasar, Makasar, dan Tangerang. Pada tahun 2018, teknologi aspal plastik dan aspal karet tersebut juga sudah mulai digunakan dalam paket pekerjaan pemeliharaan jalan nasional di beberapa provinsi.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini