nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sri Mulyani: Defisit Transaksi Berjalan Bukanlah Sebuah Dosa

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 12:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 09 20 1975468 sri-mulyani-defisit-transaksi-berjalan-bukanlah-sebuah-dosa-SG2iKgexqP.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Okezone

JAKARTA - Indonesia telah memiliki Gross Domestic Product (GDP) yang melebihi USD1 triliun, pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,1% - 5,3%. Inflasi juga dipastikan stabil selama 4 tahun ini pada kisaran 3%.

Pemerintah dan bank sentral mencoba untuk meningkatkan pertumbuhan dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan fiskal digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Pemerintah fokus untuk menginvestasikan kepada infrastruktur dan sumber daya manusia. Sektor swasta juga dilibatkan dalam pembangunan melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Sebagai hasilnya, tingkat kemiskinan turun di bawah 10% dan Gini Ratio (tingkat ketimpangan kemiskinan) juga menurun.

Baca Juga: Sumbang USD1,6 Miliar, Migas Masih Jadi Biang Kerok Defisit Neraca Perdagangan

"Hal tersebut saya sampaikan ketika menjadi panelis dalam seminar 'Managing Financial Shock' yang diselenggarakan oleh Bloomberg di Singapura 7 November 2018. Turut menjadi panelis adalah Managing Director Bank Sentral Singapura Ravi Menon dan mantan Direktur Bank Sentral AS Janet Yellen. Bertindak selaku moderator Clive Crook dari Bloomberg," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam postingan Facebooknya, Jumat (9/11/2018).

Pada beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan (impor lebih besar daripada ekspor), namun itu semua dapat dikompensasi oleh banyaknya arus modal ke Indonesia. Sehingga secara keseluruhan tetap terjadi surplus transaksi.

grafik

Namun pada tahun 2018 ini, lanjutnya, defisit tersebut tidak bisa terkompensasi dikarenakan larinya arus modal dari Indonesia sebagai dampak normalisasi ekonomi global yang antara lain dengan adanya kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Sehingga sebagai dampaknya terjadi pelemahan pada nilai tukar Rupiah.

Baca Juga: Akhirnya Neraca Perdagangan Surplus, No 3 Indonesia Menang dari Amerika!

“Defisit transaksi berjalan bukanlah sebuah dosa,apalagi untuk negara berkembang seperti Indonesia. Sepanjang defisit tersebut memang digunakan untuk impor barang-barang yang produktif,” ujar Sri Mulyani.

Dengan kondisi pembiayaan keuangan yang semakin mahal dan pengetatan likuiditas ini, pemerintah akan menjadi lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas dalam proyek pembangunan. Ini semua dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi dunia yang akan menuju pada kondisi normal yang baru.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini