nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penguatan Rupiah Tanda Keyakinan Investor Meningkat

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 11:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 09 278 1975439 penguatan-rupiah-tanda-keyakinan-investor-meningkat-bUvHddMgAb.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan keyakinan investor terhadap Indonesia semakin meningkat. Kondisi ini pun disambut baik kalangan pengusaha dan pelaku pasar karena bisa menumbuhkan optimisme di pengujung tahun. Kemarin berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah berada di level Rp14.651 per dolar Amerika Serikat (USD). Angka tersebut menguat signifikan dari pada sehari sebelumnya yang sebesar Rp14.764 per USD. Penguatan ini melanjutkan tren positif sejak pekan lalu saat rupiah masih di atas Rp15.000 per USD. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menyambut baik penguatan rupiah yang terjadi dalam sepekan terakhir ini. Dia berharap rupiah bisa menguat di bawah Rp14.000.

Baca Juga: Rupiah Melemah Lagi, Pagi Ini Parkir di Rp14.637/USD

“Karena kalau rupiah melemah akan meningkatkan semua biaya produksi. Harapan kami bisa menguat di bawah Rp14.000,” tuturnya di Jakarta kemarin. Pelaku industri pasar modal Susy Meilina berpendapat, penguatan rupiah dipengaruhi beberapa faktor dari domestik hingga global. Dari dalam negeri, laporan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2018 yang mencapai 5,17% mampu mendorong tingkat kepercayaan investor. Hal tersebut bisa mendorong kepercayaan terhadap pertumbuhan pendapatan korporasi pada kuartal IV/2018. “Penguatan rupiah ini juga akan mendorong kepercayaan terhadap pemerintah,” ujar Susy.

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS 

Dia menambahkan, faktor global yang turut berkontribusi terhadap penguatan rupiah adalah karena peningkatan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang lebih moderat. Menurutnya peningkatan suku bunga acuan tahun ini yang berkisar 100-125 basis poin (bps) akan lebih rendah lagi pada 2019, yakni sekitar 50-75 bps. Dari sisi domestik, rupiah juga terbantu oleh membaiknya cadangan devisa Indonesia yang tercatat USD115,2 miliar pada akhir Oktober 2018, meningkat bila dibandingkan dengan posisi akhir September 2018 yang sebesar USD 114,8 miliar.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Tak Pengaruhi Perdagangan Online

BI mengakui, peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2018 menjadi sebesar USD115,2 miliar dipengaruhi penerimaan devisa migas dan penarikan utang luar negeri (ULN) pemerintah yang lebih besar dari kebutuhan devisa untuk pembayaran ULN pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah. “Kami menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman.

Di bagian lain, Sekretaris Perusahaan Bank BNI Kiryanto mengatakan, ekspektasi per tumbuhan ekonomi dan penguatan nilai tukar membutuhkan strategi yang tepat. Hal ini bisa dilakukan pemerintah dengan menempuh langkah yang tepat. Menurut dia, langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk memperkuat nilai tukar adalah dengan terus berupaya menekan rasio current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan ke kisaran 1,9- 2,0% terhadap PDB. Selain itu harus diupayakan menekan defisit neraca perdagangan menjadi lebih rendah. “Lebih bagus lagi apabila bisa surplus. Caranya dorong ekspor sebesar-besarnya dan kurangi impor, terutama barang-barang konsumtif,” ujar Kiryanto.

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin

Faktor Global

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Muhammad Eddy mengatakan, penguatan rupiah tidak lepas dari faktor global. Menurutnya, pemilu sela di AS yang dimenangi Partai Demokrat memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap ekspektasi kebijakan Presiden Donald Trump. “Dengan kemenangan Demokrat tentu tidak semulus sebelumnya,” kata Eddy. Dia juga memaparkan, faktor lain yang menyebabkan dolar melemah adalah masuknya dana yang cukup besar ke saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

Di samping itu, ditambah dengan faktor fundamental ekonomi dalam negeri yang cukup kuat. Adapun terkait angka pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 5,17% pada kuartal III/2018, hal itu masih bisa didorong lebih tinggi lagi melalui sektor ekonomi digital. Dia mendesak agar pemerintahan konsisten mendorong digitalisasi di seluruh sektor ekonomi. Ekonom Standard Chartered Aldian Taloputra menilai, penguatan rupiah beberapa hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor global seperti hasil pemilu di AS yang membuat Pemerintah AS lebih sulit mengeluarkan kebijakan stimulus.

(Hafid Fuad/Kunthi Fahmar Sandy/Oktini Endarwati)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini