nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Said Didu Ungkap Ada Dosa Garuda Indonesia ke Merpati, hingga Akhirnya Tersungkur

Andrea Heschaida Nugroho, Jurnalis · Sabtu 17 November 2018 15:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 17 320 1979173 said-didu-ungkap-ada-dosa-garuda-indonesia-ke-merpati-hingga-akhirnya-tersungkur-WVG0Rkmn81.jpeg Said Didu (Foto: Andrea/Okezone)

JAKARTA — Said Didu membeberkan cerita maskapai penerbangan Merpati Airlines yang selama ini dianggap ‘mati’. Dia mengatakan, masalah dimiliki Merpati sejak awal didirikan hingga berpisah dari Garuda Indonesia.

“Merpati menghadapi gelombang permasalahan berkali-kali, lahirnya pun menghadapi masalah. Pada saat pemisahan Merpati, Merpati sama Garuda masih satu. Dan pada saat berpisah, dan dia ada juga dosa Garuda ke Merpati,” kata Mantan Komisaris Utama Merpati Nusantara Airlines Said Didu di Jakarta, Sabtu (17/11/2018).

Mantan Komisaris Utama Merpati periode 2002-2005 ini juga menganggap Merpati dibunuh oleh induknya sendiri yaitu Garuda Indonesia karena beban utang hanya ditumpukan kepada Merpati.

Baca Juga: Investor Merpati Suntikkan Uang Jaminan Rp250 Miliar

“Pada saat dia pisah, pesawatnya diambil, bukunya (pembukuan keuangan) tidak. Jadi beban utangnya tetap di Merpati. Itu permainan buku. Jadi dibunuh oleh induknya, awal-awalnya,” tuturnya.

Saat menghadapi masa sulit, lanjutnya, Merpati meminta dana sebesar Rp1 triliun untuk penyehatan krisis negara. Namun hanya Garuda yang diputuskan untuk diselamatkan walaupun harus menjual kantornya yang dibeli oleh pihak BUMN.

merpati

“Merpati meminta saat itu Rp1 triliun untuk penyehatan dari dampak krisis negara, Garuda meminta Rp2 triliun di waktu yang sama. Garuda hampir semua orang mendukung, termasuk DPR untuk memberikan penyertaan modal negara. Saat itu saya Sesneg ‘Oke’ saya bilang Garuda kita selamatkan tapi saya minta dia pindah kantor dan menjual kantornya, itulah yang Kementerian BUMN beli,” jelasnya.

Usai meminta bantuan Rp1 triliun, munculah 3 opsi untuk nasib Merpati Airlines. Opsi satu bubarkan Merpati, kedua adalah kecilkan Merpati, terus yang ketiga adalah dibiarkan saja. Said juga menguak pemberian dana yang terlambat oleh pemerintah selama dua tahun dengan jumlah yang hanya setengahnya.

Baca Juga: Merpati Terbang Lagi, Kementerian BUMN Pelajari Putusan Pengadilan

“Setelah itu baru dua tahun dikasih Rp450 miliar, sebagai seorang pebisnis, minta Rp1 trilliun, mundur dua tahun Rp450 miliar itu sangat tidak memberikan apa-apa. Itu dibantahkan terus bahwa pemerintah sudah memberikan, padahal itu diundur dua tahun, Merpati sudah ditolong—ditolong dalam kertas, dalam realitas bisnis tidak,” jelasnya.

Said menceritakan bagaimana perjuangannya dalam mempertahankan Merpati hingga membeli avtur (bahan bakar pesawat) dengan kartu kreditnya agar pesawat dapat terbang kembali ke Jakarta.

“Saya bilang ‘Pak, avtur di Makasar habis dan tidak ada uang untuk membayar avtur’, maka kami kumpulkan uang batasan kartu kredit kami untuk membayar itu (avtur),” ungkapnya.

Said pun membeberkan kasus korupsi yang diisukan kepada Merpati dengan adanya pembelian pesawat MA60 yang terbilang cukup mahal oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah China.

“Ada pesawat MA60 yang uangnya ada dan pemerintah China mau membelikan. Jadi pembelian pesawat MA60 adalah pembelian pemerintah, bukan kepada Merpati. Jadi bukan pembelian Merpati kepada pabrik. Awalnya, itu hanya diteruskan utangnya ke Merpati. Jadi itu hasil bukan utang Merpati ke pemerintah karena yang membeli saat itu adalah pemerintah ke pemerintah China,”

“Sempat muncul ini bahwa terjadi korupsi di pengadaan MA60 dan dianggap sangat mahal. Pesawat MA60 tidak pernah dijual ke Merpati yang menjual adalah pemerintah China. Jadi yang ada utang sekarang itu adalah utang Merpati kepada pemerintah,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini