nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi: Berpuluh-puluh Tahun Problem Ekonomi Indonesia Defisit Transaksi Berjalan

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 03 Desember 2018 10:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 03 20 1985978 presiden-jokowi-berpuluh-puluh-tahun-problem-ekonomi-indonesia-defisit-transaksi-berjalan-5sUnjxbCMw.jpg Foto: Taufik Okezone

JAKARTA - Presiden Joko Widodo meminta kepada Menteri Ekonomi Kabinet Kerja untuk menekan angka defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Karena hingga Oktober 2018 defisit transaksi berjalan Indonesia masih cukup tinggi.

Menurut Jokowi, selama ini sejak puluhan tahun lalu, masalah utama perekonomian Indonesia tidak pernah mengalami kinerja yang positif. Berdasarkan perkiraannya, defisit transaksi berjalan Indonesia selalu mengalami defisit sejak tahun 1998 lalu.

"Ini sudah berpuluh-puluh tahun bahwa problem besar (ekonomi Indonesia) adalah CAD," ujarnya dalam acara CEO Networking di Hotel Ritz Carlton SCBD, Jakarta, Senin (3/12/2018).

Baca Juga: Cerita RI tentang Defisit Sejak Merdeka

Menurut Jokowi, meskipun ini menjadi masalah perekonomian, namun hal ini tidak pernah dicari solusinya. Padahal jika sejak dulu kala dilakukan langkah pencegahan, maka kemungkinan impor Indonesia bisa ditekan.

Mantan Wali Kota Solo itu menyebut jika selama ini Indonesia terlalu terlena untuk mengekspor barang-barang mentah. Namun tanpa memikirkan rencana ke depannya karena bahan mentah yang selama ini jadi andalan Indonesia bisa habis.

Menurut Jokowi, jika sejak dahulu Indonesia sudah melakukan hilirisasi industri, maka bukan tidak mungkin saat ini CAD Indonesia tidak melebar. Sebab, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor barang-barang jadi.

"Kalau kita sejak dulu membangun industri alumina. Maka impor enggak perlu terjadi karena pengaruhnya pada CAD," ucapnya.

 Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Membengkak, Ini Penyebabnya

Sebagai salah satu contohnya adalah bagaimana Indonesia selalu mengekspor batu bara mentah sebesar 480 juta ton. Jika sejak dahulu Indonesia melakukan langkah hilirisasi maka batu bara mentah tersebut bisa menghasilkan LPG.

"Kalau sejak dulu ada hilirisasi, itu bisa untuk LPG bisa, bisa untuk. Tapi kenapa tidak dilakukan hilirisasi itu, karena kita keenakan kirim bahan mentah terus dapat uang. Kita tahu bahwa kita impor bijih itu 4 juta ton," jelasnya.

 Baca Juga: Di Depan CEO, Presiden Jokowi: Stop Impor dan Lakukan Hilirisasi

Menurut Jokowi, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak melakukan hilirisasi. Sebab, jikalau teknologi belum dimiliki, maka Indonesia bisa membeli teknologi tersebut dari luar negeri.

"Kalau kita belum siap teknologi beli saja, cari aja. Selalu saya dorong, menyelesaikannya memang enggak mudah. Sekali lagi harus hilirisasi," tegasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini