Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Biang Kerok Inflasi November, dari Tiket Pesawat hingga BBM Non Subsidi

Yohana Artha Uly , Jurnalis-Senin, 03 Desember 2018 |12:46 WIB
Biang Kerok Inflasi November, dari Tiket Pesawat hingga BBM Non Subsidi
Foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pada November 2018 terjadi inflasi sebesar 0,27% (month to month/mtm). Laju inflasi ini lebih rendah tipis dari bulan Oktober yang inflasi sebesar 0,28%.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada seluruh indeks kelompok pengeluaran. Terutama pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,56% dengan andil ke inflasi 0,10%.

Di mana pada kelompok ini yang menyebabkan inflasi tinggi yaitu tarif angkutan udara naik dengan andil 0,05%. Dia menjelaskan, kenaikan ini dipicu tingginya permintaan pesawat di akhir tahun.

"Kedua, penyebabnya kenaikan komoditas harga bensin nonsubsidi dengan andil 0,02%. Kita tahu BBM pertamax mengalami kenaikan seiring kenaikan harga minyak November. Kemudian kenaikan tarif pulsa dengan sumbangan 0,01%, itu lebih kepada kenaikan pulsa paket internet," papar dia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (3/11/2018).

Baca Juga: Inflasi November 0,27%, Sri Mulyani: Kita Berhasil Jaga Stabilitas Harga

Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar juga mengalami inflasi sebesar 0,24% dengan andil sebesar 0,06%. Komoditas utama yang menyumbang inflasi pada kelompok ini yakni kenaikan upah tukang bukan mandor sebesar 0,02%.

"Juga peningkatan beberapa bahan bangunan seperti besi beton, cat tembok dan tarif sewa rumah masing-masing 0,01%," katanya.

Kemudian, inflasi berasal dari kelompok bahan makanan sebesar 0,25% dengan andil 0,05%. Inflasi terjadi karena harga beberapa komoditas pangan meningkat yang dipengaruhi perubahan cuaca.

"Adanya kenaikan harga barang mewah dengan andil inflasi 0,04%, cuaca sangat berpengaruh kepada produk bawang merah. Ada kenaikan harga bawang merah di 74 kota misal Cirebon dan Aceh," jelasnya.

 Baca Juga: BPS: Inflasi November 0,27%

Selain bawang merah, komoditas beras juga menyumbang andil inflasi 0,03% "Kita tau bahwa bobot beras tinggi, jadi meskipun ada kenaikan harga tipis tapi sudah berikan andil 0,03%," kata Kecuk.

Meski demikian, BPS juga mencatat beberapa komoditas pangan yang mengalami penurunan harga atau deflasi, seperti cabai merah sebesar 0,04%, daging ayam ras, beberapa buah-buahan, dan minyak goreng yang masing-masing 0,1%.

Sedangkan pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi 0,20% dengan andil 0,04%. Komoditas yang dominan yakni rokok kretek filter yang sebesar 0,01%.

Kemudian pada kelompok sandang mengalami inflasi sebesar 0,23% dengan andil sebesar 0,01%, disumbang kenaikan harga pada pakaian pria maupun wanita. Lalu kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,36% dnegan andil 0,01% didorong kenaikan harga jasa kesehatan.

Sementara pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi sebesar 0,05%, namun pengaruhnya sangat kecil sehingga tak memberi andil pada inflasi nasional.

Adapun inflasi tahun kalender Januari hingga November 2018 adalah 2,50% (year to date/ytd). Sementara, inflasi tahunan November 2018 sebesar 3,23% (year on year/yoy).

Sedangkan untuk komponen inti pada November 2018 mengalami inflasi sebesar 0,22%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender Januari-Oktober 2018 sebesar 2,90% dan tingkat inflasi komponen inti year on year sebesar 3,03%.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement