nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dolar AS Lesu Imbas Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 08:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 05 278 1986978 dolar-as-lesu-imbas-melambatnya-pertumbuhan-ekonomi-b7qI6Tkzvs.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

NEW YORK - Kekhawatiran perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) juga berimbas pada gerak dolar AS. Pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utamalainnya, turun 0,07% menjadi 96,9680 pada pukul 20.00 GMT (pukul 15.00 waktu setempat). Demikian seperti dilansir Xinhua, Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Baca Juga: Dolar AS Terus Merosot

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1341 dolar AS dari 1,1342 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2717 dolar AS dari 1,2726 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7337 dolar AS dari 0,7348 dolar AS.

Dolar AS dibeli 112,81 yen Jepang, lebih rendah dari 113,68 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9974 franc Swiss dari 0,9988 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3247 dolar Kanada dari 1,3210 dolar Kanada.

Tercatat, imbal hasil obligasi dua tahun dan imbal hasil obligasi tiga tahun melampaui imbal hasil obligasi lima tahun. Hal ini menciptakan inversi spread imbal hasil yang biasanya dipandang sebagai pendahulu dari kemerosotan ekonomi.

Selama lima dekade terakhir, inversi spread imbal hasil antara surat utang dua tahun dan 10 tahun, muncul menjelang setiap resesi di Amerika Serikat.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Jangan Kaget Kalau Dolar AS Turun Terus

Para analis memperingatkan bahwa inversi terbaru antara obligasi jangka pendek dan obligasi jangka panjang mengisyaratkan ekspektasi pasar bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan melambat.

Aksi jual besar-besaran baru-baru ini di pasar saham telah mendorong beberapa investor untuk beralih ke obligasi pemerintah AS yang relatif kurang berisiko dan juga meningkatnya permintaan untuk greenback sebagai mata uang safe-haven karena likuiditasnya yang tinggi.

Namun, para analis mengatakan karena investor semakin khawatir tentang melambatnya pertumbuhan AS, imbal hasil obligasi pemerintah yang bertenor lebih lama menjadi sangat terbebani.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini