nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prediksi Pasar Properti di Tengah Pemilu 2019: Tantangannya Suku Bunga KPR

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 12 Desember 2018 11:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 12 470 1990126 prediksi-pasar-properti-di-tengah-pemilu-2019-tantangannya-suku-bunga-kpr-peAEwdqaLx.jpg Ilustrasi Rumah (Foto: Antara)

JAKARTA - Kebijakan pemerintah untuk menjaga sentimen pasar sepanjang 2018 dan pengaruh ekonomi global berdampak positif. Hal ini membuat pasar properti 2019 diprediksi stabil meski ada Pemilihan Presiden 2019 pada semester pertama 2019.

Harga dan suplai properti, terutama pada sektor residential, diperkirakan meningkat pada 2019. Permintaan pasar akan tetap stabil, permintaan untuk properti kelas menengah atas akan meningkat. “Pemerintah meningkatkan anggaran infrastruktur sebesar 6% dari tahun sebelumnya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sejumlah kebijakan pemerintah lainnya, seperti pelonggaran loan to value (LTV), serta Program Sejuta Rumah membantu memudahkan masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah untuk memiliki hunian,” kata Ike Hamdan, Head of Marketing Rumah.com.

Baca Juga: Pertumbuhan Industri Properti 2019 Diprediksi Hanya 10%

Pertumbuhan suplai properti yang sejalan dengan peningkatan harga properti mengindikasikan pasar properti mulai stabil. Pasar sudah memasuki area “seller’s market”. Penjual memasang harga tinggi untuk properti residential namun memberikan banyak pilihan kepada pembeli. Semakin banyaknya suplai membuat konsumen semakin mudah menentukan pilihan residential, baik berdasarkan lokasi, harga, maupun jenisnya.

Andry Asmoro, ekonom Bank Mandiri, menuturkan, tahun depan pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,1%-5,2% karena adanya faktor harga komoditas yang masih lemah dan berpengaruh pada kinerja ekspor.

Menurutnya, perekonomian Indonesia pada tahun 2019 mendatang akan dipengaruhi, antara lain oleh kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan domestik, dampak dari trade war jika masih berlanjut, turunnya harga minyak dan komoditas, serta situasi politik yang stabil sehingga akan berpengaruh positif bagi ekonomi Indonesia. Tahun politik diperkirakan berdampak pada belanja politik melalui iklan kampanye yang akan sedikit membantu beberapa sektor, seperti logistik, periklanan, dan makanan serta minuman.

Baca Juga: Raja Salman Saksikan Visualisasi Amaala Project

“Tantangan terbesar yang akan dihadapi Indonesia dengan adanya perekonomian global yang diperkirakan cenderung melambat pada tahun 2019 adalah masih pada bagaimana mendorong ekspor manufaktur kita di tengah menurunnya harga komoditas. Kebijakan pemerintah dan otoritas moneter saat ini sudah baik karena responsif. Beberapa paket kebijakan perlu didukung aturan teknis dan sosialisasi kebijakan kepada pelaku bisnis agar lebih memiliki manfaat pada peningkatan kinerja ekspor,” sebut Andry.

Tren kenaikan suku bunga acuan diprediksi masih berlanjut hingga 2019 mendatang sehingga bunga kredit pemilikan rumah (KPR) pun diprediksi naik. Namun, hal itu diyakini tak akan menghambat pertumbuhan bisnis properti.

Andry menilai, KPR masih menjadi andalan warga untuk bisa memiliki rumah. Karena itu, dia yakin kenaikan suku bunga tak akan membuat bisnis properti menjadi lesu. “Tantangan ke depan adalah lebih pada suku bunga KPR yang kemungkinan naik pada 2019. Tapi perkembangan properti diperkirakan terus naik tahun depan,” imbuhnya.

Kebijakan-kebijakan pemerintah berdampak positif pada optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,2%. Kondisi ekonomi diperkirakan stabil hingga akhir tahun jika pemerintah tetap konsisten menjalankan kebijakan yang berlaku. Mengamati data Rumah.com, Property, Index, dan data nasional, pasar properti nasional pada tahun 2019 akan lebih positif, melanjutkan tren yang telah terbentuk sepanjang 2018.

Hal yang perlu diantisipasi adalah Hari Raya Idul Fitri yang berdekatan dengan peristiwa politik (Pemilihan Presiden 2019). Meski kepuasan terhadap upaya pemerintah dalam menjaga harga properti hunian tetap terjangkau sedikit menurun, mayoritas merasa optimistis dengan iklim properti Indonesia saat ini. Meski demikian, berbelitnya proses pengurusan KPR bisa menjadi penahan laju pasar properti nasional. Kebijakan pemerintah yang melonggarkan loan to value (LTV) atau uang muka membuka kesempatan bagi para pencari properti untuk membeli rumah dengan uang muka yang serendah-rendahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini