nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Nasib Industri Properti di Tahun Politik?

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 17:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 17 470 1992509 bagaimana-nasib-industri-properti-di-tahun-politik-ZLcZNJ3lP0.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Tahun 2019 Indonesia akan memasuki tahun politik. Pasalnya pada tahun depan ada dua agenda politik besar yang akan menanti yakni Pemilihan Umum atau Legeslatif dan Pemilihan Presiden.

Menanggapi tahun politik, Managing Director Sinarmas Land Dhonie Rahajoe mengatakan, memasuki tahun politik bukan berarti sektor properti lesu. Menurutnya, sektor properti masih akan tetap tumbuh meskipun melambat.

 Baca Juga: Hunian Nempel Stasiun Jadi Tren Tahun Depan

Sebagai salah satu contohnya saja pada tahun 2018 lalu yang mana Indonesia juga memasukkan tahun politik karena ada pemilihan kepala daerah yang cukup banyak. Namun, bukanya merasa justru investor besar mulai berdatangan dan mengajak untuk bekerjasama.

"Saya agak heran disebutkan banyak tahun politik tapi buktinya minat kerjasama dari dalam dan luar negeri seperti Mitsubishi Corporation land data ke kita untuk kerjasama dengan kita," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Dhonie menambahkan, yang dicari investor bukanlah melihat situasi politik atau bukan. Namun investor melihat bagiamana keberanian dari pengembang atau pemerintah itu sendiri untuk melakukan sesuatu pembangunan meskipun di tengah tahun politik.

 Baca Juga: Ada Pilpres, Bagaimana Kondisi Pasar Properti Tahun Depan?

Sebagai salah satu contohnya adalah ketika kejadian politik yang cukup besar di masa lalu tepatnya di tahun 1995-1996. Ketika itu meskipun ada peristiwa besar namun para investor mengaku berani untuk spending uangnya.

"Kalau saya lihat ada yang 1995 dan 1996. Pada saat tiarap jongkok sedikit saja kelihatan kan. Malah investor tuh bukan melihat yang tiarap," jelasnya.

Melihat contoh di atas, perlu sebuah keberanian bagi investor untuk spending uangnya di saat kondisi apapun yang melanda negeri ini. Sebab, jika tetap puas dan takut maka investor tersebut tidak akan menghasilkan apapun bahkan bisa tergerus secara terus menerus.

"Justru kalau orang lagi leha-leha, kita harus bergerak. Jadi tidak seperti beli permen atau beli barang elektronik," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini