nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kurangi Defisit Neraca Perdagangan, Kemendag Buka Pasar Baru di Afrika

Kuntadi, Jurnalis · Kamis 27 Desember 2018 13:46 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 27 320 1996598 kurangi-defisit-neraca-perdagangan-kemendag-buka-pasar-baru-di-afrika-xqm3lSBA5e.jpg Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Foto: Okezone)

SLEMANNeraca perdagangan pada 2018 dipastikan akan mengalami defisit. Kementerian Perdagangan mengincar sejumlah negara di Afrika untuk memperluas dan memperkuat pasar ekspor.

“Neraca perdagangan ekspor impor kita pada 2018 ini mengalami defisit,” jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dalam kunjungan ke salah satu industry di Jalan Magelang, Sleman, Kamis (27/12/2018).

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Kembali Defisit, Ini 5 Faktanya

Menurutnya, nilai ekspor ini tidak lepas dari kondisi perdagangan di China dan Amerika. Hal ini menjadikan sejumlah Negara daya belinya menurun yang berdampak pada menurunnya kemampuan melakukan import. Begitu juga kondisi di dalam negeri banyak sekali proyek infrastruktur yang mendorong insdutri mengimport mesin meningkat tajam.

Atas kondisi ini, Kementerian akan segera membuat laporan dengan mendasarkan pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) di awal tahun nanti. Bersama dengan Kementerian Perindustrian di bawah Menko Perekonomian, akan melakukan pengecekan bagaimana persiapan dan perkembangan industry di masa depan. Ini akan menjadi dasar untuk membuka keran ekspor.

Baca Juga: BI Beberkan Bukti Sulitnya Keluar dari Defisit Neraca Dagang

Alhasil saat ini sudah ada sejumlah negara yang melakukan perjanjian kerjasama. Dengan Australia tinggal menunggu waktu saja. Sedangkan dengan Mozambik dan Tunisia serta Maroko dipastikan akan dimulai pada awal Januari. Selain itu masih ada sejumlah Negara lain yang akan ikut.

“Ada banyak negara tujuan ekspor baru,” jelasnya.

Diakuinya, ekspor minyak sawit terkoreksi karena dikenai biaya masuk. Ini terjadi karena di beberapa negara juga produksi vegetable oil, padahal biaya produksi di sana lebih mahal, sehingga dikenai biaya masuk.

“Saya terus promosikan vegetable oil kita sehat, sejak kecil saya makan gorengan dan tetap sehat,” terangnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini