nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RI Mau Bangun Pembangkit Listrik Nuklir, Bagaimana Keamanannya?

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 27 Desember 2018 18:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 27 320 1996790 ri-mau-bangun-pembangkit-listrik-nuklir-bagaimana-keamanannya-PhbYu50klS.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Faktor keselamatan dalam mengoperasikan fasilitas nuklir khususnya reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi hal yang utama. Maka itu, dalam membuat desain reaktor nuklir harus mengedepankan faktor keselamatan dengan berbagai jenis kemungkinan terjadinya kecelakaan yang dapat membahayakan pekerja, masyarakat, dan lingkungan.

Hal ini disampaikan Peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan dalam pengukuhannya sebagai Profesor Riset di Gedung Badan Tenaga Nuklir Nasional.

"Kecelakaan dasar desain adalah kecelakaan yang dapat terjadi pada masa reaktor hidup dan dijadikan dasar untuk desain sistem keselamatan, sedangkan kecelakaan parah adalah kecelakaann yang melibatkan kerusakan pada bahan bakar reaktor," ujarnya di Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Baca Juga: Unit Reaktor Nuklir Terapung Pertama di Dunia Mulai Dihidupkan

Anhar menjelaskan, seiring dengan berjalannya waktu dan belajar dari pengalaman terhadap kecelakaan nuklir yang pernah terjadi, teknologi keselamatan reaktor telah mengalami perkembangan.

"Tujuan dari pengembangan teknologi keselamatan reaktor nuklir ini adalah untuk menjamin bahwa penempatan dan operasi reaktor nuklir mampu memenuhi prinsip dan persyaratan keselamatan, kesehatan, dan proteksi radiasi," tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa pembahasan keselamatan reaktor nuklir, dapat dilihat dari berbagai aspek, yakni neutronik, mekanik, dan termohidrolik.

"Aspek thermohidraulika merupakan aspek penting yang terkait dengan fungsi dasar keselamatan untuk pengambilan panas dari bahan bakar kependingin. Jika terjadi kecelakaan fungsi dasar keselamatan ini harus dipertahankan karena kegagalan fungsinya akan mengakibatkan akumulasi panas di teras reaktor nuklir," jelasnya.

Melalui penelitiannya yang berjudul Peran Simulasi Eksperimental dan Numerik Aspek Termohidrolik dalam Peningkatan Keselamatan Reaktor Nuklir, Anhar menyatakan bahwa pentingnya melakukan riset di bidang keselamatan di bidang termohidraulika baik yang berbasis metodologi simulasi eksperimental maupun numerik untuk mengetahui berbagai fenomena termohidraulika yang dapat menimbulkan kecelakaan.

"Dari hasil riset inilah nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan teknologi keselamatan reaktor nuklir secara tepat," ungkapnya.

Baca Juga: Sudah Siapkah RI Pakai Listrik dari Tenaga Nuklir?

Dia menuturkan, secara numerik melalui aplikasi komputer, mekanisme dan fenomena fisis kecelakaan parah dapat dimodelkan. Sehingga dengan demikian kondisi kecelakaan pada sebuah PLTN khususnya yang menggunakan pendingin air dapat dianalisis dan dapat dintisipasi penanganannya.

"Saya berharap simulasi eksperimental dan numerik aspek termohidrolik dalam bidang keselamatan reaktor nuklir memiliki peran saling melengkapi, sehingga kedua model ini harus dikembangkan secara sinergi," tambahanya.

Saat ini, tutur dia, Batan, telah memiliki berbagai fasilitas eksperimental dan program perhitungan komputer terkait dengan kecelakaan PLTN. Di mana dengan menyinergikan kegiatan simulasi eksperimental dan numerik serta melibatkan jejaring lembaga penelitian terkait, kegiatan riset yang lebih komprehensif di bidang keselamatan PLTN dapat dirancang dan dilaksanakan dengan baik.

"Jika hal itu dapat dilakukan, kontribusi saintifik dan sekaligus dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di bidang penguasaan teknologi keselamatan reaktor nuklir. Selain itu, dapat menunjang peran Batan sebagai technical support organization di bidang energi nuklir," pungkasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini