nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Target Investasi Minerba Dipatok USD6,2 Miliar

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 12:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 10 320 2002507 target-investasi-minerba-dipatok-usd6-2-miliar-aLSU5bRNgu.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Pemerintah menargetkan investasi di subsektor mineral dan batu bara (minerba) tahun ini tidak mengalami kenaikan atau penurunan. Proyeksi investasi di subsektor minerba pada 2019 sama dibandingkan tahun 2018 sebesar USD6,2 miliar.

“Investasi tahun ini mirip-mirip saja belum ada eksplorasi besar-besaran. Saya kira wilayah baru belum banyak di lelang sehingga untuk eksplorasi baru tidak ada,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara pada Direktorat Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta.

Menurut dia, tidak naiknya target investasi di subsektor mineral dan batu bara karena banyak tambang beroperasi bukan merupakan tambang baru. “Untuk investasi tambang yang sudah eksploitasi biasanya seputar penggantian capital expenditure peralatan dan sebagainya. Untuk tambang eksplorasi ada 10 lelang juga belum laku,” kata dia. Dia mengatakan, lelang 10 wilayah tambang eksplorasi tersebut merupakan bekas Izin Usaha Pertambangan (IUP). Salah satu wilayah pertambangan yang belum laku itu ialah tambang Silo di Jember, Jawa Timur.

Baca Juga: Asing Bakal Investasi di Industri Kapas Kosmetik

“Selain itu, ada empat tambang nikel di Sulawesi Tenggara. Untuk Antam masih dievaluasi oleh Ombudsman. Kalau evaluasi selesai, baru nanti keluar IUP eksplorasi,” kata dia. Dia mengatakan, jika 10 lelang tambang tersebut selesai, target investasi dapat terlampaui seperti tahun lalu.

Berdasarkan laporan Ditjen Minerba, realisasi investasi pada 2018 mencapai USD6,8 miliar melebihi target sebesar USD6,2 miliar. Atas dasar itu, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) subsektor minerba pada 2018 juga melampaui target, yaitu sebesar 156% atau mencapai Rp50 triliun dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 sebesar Rp32,1 triliun.

Rinciannya untuk royalti mencapai RP29,8 triliun, penjualan hasil tambang 19,3 triliun, iuran tetap Rp0,5 triliun dan jasa indivasi Rp0,4 triliun. “Sedangkan target PNBP tahun ini sebesar Rp40 triliun,” kata dia.

Terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan hal senada. Menurutnya, investasi sangat di pengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas. Namun, perlu di perbaiki untuk meningkatkan investasi di subsektor minerba ialah terkait regulasi atau perizinan.

grafik

“Misalnya izin kehutanan yang masih sulit. Izin produksi juga harus hati-hati karena kalau terlalu ditingkatkan, maka harga komoditasnya turun,” kata dia. Tak hanya itu, untuk meningkatkan investasi, pemerintah harus fokus meningkatkan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru.

Pasalnya, investasi minerba masih didominasi smelter . Sementara itu, Ketua Indonesian Mining Institute Irwandy Arief, beranggapan kunci utama meningkatkan investasi subsektor minerba ialah kebijakan pemerintah.

Kebijakan pemerintah tidak boleh terlalu kaku karena karakteristik setiap komoditas berbeda. “Misalnya emas yang terlalu stabil tidak bisa disamakan dengan nikel yang fluktuatif,” kata dia. Dia menilai, realisasi subsektor minerba tahun lalu memang mengalami peningkatan. Meski begitu, kenaikan yang dicapai tidak signifikan.

(Nanang Wijayanto)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini