nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bangun Megaproyek 35.000 MW, PLN Keluar Duit hingga Rp248 Triliun

Rikhza Hasan, Jurnalis · Kamis 17 Januari 2019 12:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 17 320 2005673 bangun-megaproyek-35-000-mw-pln-keluar-duit-hingga-rp248-triliun-6IPnUbDt1Y.png (Foto: Instagram Kementerian BUMN)

JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mencatat dana untuk investasi proyek 35.000 mega watt (MW) yang telah dikeluarkan sejak Januari 2015 hingga September 2018 sebesar Rp248 triliun.

PLN menjabarkan, besarnya dana tersebut berasal dari kas perusahaan dan pinjaman. Dengan kinerja perseroan semakin positif, pendanaan megaproyek listrik tersebut dapat dicukupi.

Di mana, PLN membukukan laba sebesar Rp9,6 triliun atau meningkat 13,3% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp8,5 triliun pada triwulan III-2018.

Baca Juga: PLN Jamin Pasokan Listrik Selama Debat Capres

Melansir dari Instagram Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kamis (17/1/2019), kenaikan laba tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan dan efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan serta adanya kebijakan pemerintah DMO harga batubara.

Nilai penjualan tenaga listrik mengalami kenaikan sebesar Rp12,6 triliun atau 6,93 persen sehingga menjadi Rp194,4 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp181,8 triliun. Volume penjualan sampai dengan September 2018 sebesar 173 Terra Watt hour (TWh) atau tumbuh 4,87% dibanding dengan tahun lalu sebesar 165,1 TWh.

Pada periode yang sama peningkatan jumlah pinjaman hanya sebesar Rp148 triliun atau 60% dari total investasi. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dana internal PLN masih sangat memadai yaitu sekitar 40% atau Rp100 triliun dari seluruh kebutuhan Investasi tersebut.

Baca Juga: Penjualan Listrik Naik, PLN Raup Laba Rp9,6 Triliun

Meskipun, sebagian besar pinjaman PLN masih akan jatuh tempo pada 10-30 tahun mendatang, namun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku dan hanya untuk keperluan pelaporan keuangan maka pinjaman Valas tersebut harus diterjemahkan (kurs) ke dalam mata uang Rupiah sehingga memunculkan adanya pembukuan rugi selisih kurs yang belum jatuh tempo (unrealized loss) sebesar Rp17 triliun.

Unrealized forex loss atau kerugian secara pembukuan akibat kenaikan kurs mata uang asing, namun tidak berdampak kepada arus kas atau cash flow. Unrealize forex loss yang tercatat pada laporan keuangan PLN akibat terjadinya pelemahan Rupiah, sementara Perseroan memiliki kewajiban atau utang dalam bentuk dolar, bahkan sering kali kontrak PLN dengan IPP (Independent Power Producer) pun dalam bentuk dolar.

(fbn)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini