Optimistis di Tengah Turunnya Proyeksi Ekonomi Global

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 23 Januari 2019 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 23 20 2008142 optimistis-di-tengah-turunnya-proyeksi-ekonomi-global-SBQBkLyyxA.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

Sri Mulyani menuturkan, ada 40 negara berpendapatan rendah yang memiliki rasio utang hingga 100%. Hal ini berbeda dengan Indonesia di mana rasio utang terhadap PDB hanya 30%.

“Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan defisit di bawah 2%, maka kita tidak termasuk. Untuk standar internasional itu rendah sekali. Defisit kita hanya 1,76%," tuturnya.

Dia menambahkan, untuk negara-negara dengan rasio utang yang tinggi cara yang tepat memang harus menurunkan rasio utang. “Untuk negara itulah pernyataan IMF berlaku,” ujar Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, negara-negara yang memiliki rasio utang tinggi harus menjaga keseimbangan fiskalnya dengan mengurangi defisit. Namun, langkah tersebut tidak akan mudah karena di sisi lain diperlukan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% pada tahun ini diperkirakan tidak akanmudah. Pasalnya, harga komoditas ekspor seperti batu bara, sawit, dan karet mengalami tekanan.

"Pemerintah tentu akan mengejar angka 5,3% walaupun tidak mudah karena harga komoditas mengalami penurunan. Itu mungkin daerah di luar Pulau Jawa akan kena," ujarnya.

Dia menambahkan, penurunan harga komoditas juga akan berpengaruh pada kinerja ekspor sehingga berimbas pada penerimaan negara.

"Tugas Ibu Sri Mulyani tidak akan mudah karena penerimaan akan kena. Kemudian orang yang tinggal di Kalimantan, Sulawesi, akan terimbas juga karena mereka hidupnya dari sawit, karet. Jadi antisipasi untuk daya beli tetap terjaga penting," tuturnya.

Menurut Chatib, kebijakan pemerintah yang telah menaikan jumlah Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan sosial dinilai bisa menjaga daya beli masyarakat. Di sisi lain, momentum Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 juga akan mengangkat konsumsi masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi bisa bertahan di angka 5%.

"Pertumbuhan ekonomi kita kira-kira sama dengan kondisi sekarang. Kalau itu sudah diantisipasi dengan baik dari sisi fiskal, saya kira bisa dikelola," kata Chatib. (Oktiani Endarwati)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini