nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terbitkan Obligasi Rp800 Miliar, PP Properti Kantongi Peringkat BBB+ dari Fitch Ratings

Kamis 24 Januari 2019 13:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 24 278 2008794 terbitkan-obligasi-rp800-miliar-pp-properti-kantongi-peringkat-bbb-dari-fitch-ratings-usdXkD1rVt.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - PT Fitch Ratings Indonesia menetapkan outlook stabil dan peringkat nasional jangka panjang BBB+(idn) untuk obligasi yang diterbitkan PT PP Properti Tbk (PPRO) senilai Rp800 miliar yang akan jatuh tempo pada tahun 2022. Obligasi ini merupakan penerbitan tahap kedua dari penawaran umum berkelanjutan PPRO sebesar Rp2 triliun. Sebelumnya PPRO pun menerima peringkat BBB+ (idn).

Analis Utama Fitch Ratings Salman Alamsyah mengatakan, setelah penerbitan kedua ini, PPRO akan memiliki sekitar Rp534,5 miliar sisa PUB. Obligasi baru PPRO ini merupakan kewajiban senior tanpa jaminan. PP Properti berencana untuk memakai sekitar 44% dari dana obligasi untuk keperluan modal kerja, sekitar 46% untuk pembayaran akuisisi lahan dan investasi lainnya, dan sisanya sekitar 10% untuk refinancing utangnya.

Baca Juga: Akuisisi Pengembang di Yogyakarta, PP Properti Incar Pembangunan Hunian Mahasiswa

Peringkatan outlook stabil dan peringkat nasional jangka panjang BBB+ yang diberikan pada PPRO salah satunya didasari oleh prapenjualan apartemen yang kuat, proyek terdiversifikasi, dan lokasi proyek atraktif di kota-kota besar. Fitch memperkirakan prapenjualan teratribusi PPRO akan meningkat dari Rp3 triliun di tahun 2019 menjadi Rp4,7 triliun di tahun 2021 dengan EBITDA margin sekitar 21%-23% di tahun 2019-2021. Di sisi lain, investasi akuisisi lahan pada periode tersebut akan terbatas karena PPRO telah memiliki cadangan lahan yang cukup.

Fitch menilai, peringat PPRO akan naik jika prapenjualan teratribusi di atas Rp3 triliun secara berkelanjutan tanpa terjadi pelemahan pada profil finansial. Sedangkan peringkat bisa terpengaruh negatif jika prapenjualan teratribusi PPRO turun di bawah Rp1,5 triliun secara berkelanjutan, dan adanya pelemahan likuiditas yang berdampak pada ketidakmampuan PPRO untuk membiayai proyek dan membayar utang.

ihsg

Fitch melihat, PPRO memiliki likuiditas yang cukup untuk membiayai utang jatuh tempo Rp334 miliar hingga akhir 2019. Per September 2018, PPRO memiliki kas Rp709 miliar. "Fitch memperkirakan, PPRO membutuhkan dana eksternal tambahan dalam jangka menengah untuk pembayaran akuisisi lahan di 2019, untuk mendanai biaya konstruksi yang tinggi dalam empat tahun ke depan dan untuk refinancing kewajiban utang," kata dia dilansir dari Harian Neraca, Kamis (24/1/2019).

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini