Gaya Hidup Halal Peluang Bisnis Menjanjikan di Pasar Global

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 27 Januari 2019 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 27 320 2009970 gaya-hidup-halal-peluang-bisnis-menjanjikan-di-pasar-global-03rgJHItKc.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Kesadaran gaya hidup halal telah menjadi peluang bisnis menjanjikan di pasar global. Produk berlabel halal tak lagi dicari utamanya oleh umat muslim, tapi juga telah menjadi tren dunia.

”Halal style sekarang sudah menjadi tren global dan memiliki peluang bisnis hingga ke kancah internasional. Bukan hanya di tingkat ASEAN dan Indonesia, tapi juga sudah merambah ke pasar global,” ujar Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) Sapta Nirwandar di acara Pesta Wirausaha 2019 di Ecovention Ancol, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, halal tidak hanya identik dengan pangan. Pariwisata, keuangan, kosmetik, pendidikan, fashion, pelayanan medis, hingga kesenian dan budaya juga telah banyak digaungkan di negara-negara yang mayoritas nonmuslim.

 Baca Juga: Ekonomi Halal Siap Dorong Perekonomian Indonesia

Singapura misalnya telah memiliki halal food courtdan di Korea Selatan terdapat lebih dari 150 restoran besertifikasi halal. Demikian juga Thailand memilik Pattaya Hahal Restaurant.

”Melihat besarnya peluang bisnis halal, kita harus terus berupaya untuk menjadi leader dari bisnis halal terutama di ASEAN. Di pariwisata kita punya 1.000 destinasi wisata. Bagaimana ini dikembangkan dan dikolaborasikan dengan produk-produk domestik halal kita,” kata dia.

Untuk menjadi pemegang pasar di ASEAN ataupun global memang tidak mudah. Perlu peran besar dari pemerintah untuk menciptakan regulasi dan strategi secara komprehensif.

”Tidak hanya kompetisi, tetapi juga perlunya kolaborasi dalam rangka meningkatkan industri halal,” tandasnya.

 Baca Juga: Habiskan Rp2.465 Triliun, RI Peringkat Pertama Konsumsi Makanan Halal Dunia

Pihaknya juga menekankan perlunya inovasi terkait pemasaran aneka produk halal sehingga menghasilkan produk-produk baru yang menarik dan mudah diterima masyarakat. ”Inovasi diperlukan karena jika melihat pasarnya dari tahun ke tahun meningkat. Bahkan telah banyak brandbrandg lobal menghadirkan produk halal,” kata dia.

Berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report pada 2017-2019 Indonesia berada di tingkat 11. Potensi industrihalal lifestyle secara global tercatat mencapai USD2 miliar pada 2016.

Diproyeksikan hingga 2022 potensi bisnis mencapai USD3,1 miliar. Sebab itu, imbuh Sapta, perlu ada upaya untuk terus meningkatkan berbagai inovasi yang menarik. Sedangkan total konsumsi ekonomi halal di negara-negara OKI mencapai USD1,8 triliun.

Ruang lingkup ekonomi halal produk dan jasa meliputi makanan halal, fashion, wisata ramah muslim, media, dan rekreasi. Sapta menyebut terdapat sejumlah indikator untuk memaksimalkan ekonomi halal.

Pertama, menjadi pengekspor utama produk halal dengan meningkatkan target geografis dan target industri.

 Baca Juga: BI Andalkan Industri Halal Topang Pertumbuhan Ekonomi

Kedua, mengembangkan ekosistem domestik dengan memanfaatkan zona ekonomi khusus dan memberikan insentif untuk menarik perusahaan multinasional kelas atas yang baru.

Ketiga, mengembangkan strategi halal terkoordinasi. Indonesia sekarang mempunyai Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang memiliki kewenangan cukup luas untuk keuangan dan ekonomi Islam.

Keempat, meningkatkan kemampuan operasional berkelas dunia, dan kelima adalah substitusi impor.

Indonesia masuk dalam lima besar importir produk halal dunia bersama Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Mesir. Pada 2017 Indonesia mengimpor sekitar USD19,5 miliar produk-produk halal dari negara lain.

”Bagaimana selanjutnya mendorong produk domestik untuk mengganti produk-produk impor yaitu dengan meningkatkan produksi makanan, fashion, kosmetik, farmasi, dan media rekreasi,” kata dia. Dia mengatakan, halal lifestyle banyak dikaitkan agama, padahal pada dasarnya tidak.

Gaya hidup halal menjadi pedoman dengan kualitas hidup menyehatkan dan aman bagi semua orang. Di sisi lain, mantan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif ini mengatakan, gelaran Pesta Wirausaha 2019 menjadi kesempatan menyuarakan peningkatan kesadaran terhadap produk-produk halal.

Kegiatan yang digelar pada 25- 27 Januari 2019 di Ecovention Ancol, Jakarta diikuti lebih dari 500.000 anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA) dan 12.000 anggota terdaftar dan aktif dalam berbagai kegiatan.

Pesta wirausaha 2019 bertema Kolaboraksi ini juga menghadirkan pembicara inspiratif, panggung expo, panggung kuliner, pemateri digital, 1000 mentor and coaching clinic, 250 both pameran, dan lebih dari 3.500 peserta.

Acara ini juga dimeriahkan dengan Meet The Investor, EntreprenurRun, dan 1000 coaching. Pihaknya berharap penyelenggaraan acara ini dapat menumbuhkan kesadaran terhadap industri halal.

”Kita ingin semakin tumbuh kesadaran tidak hanya patuh terhadap agama, tapi juga menjadikan peluang bisnis dari bagian hidup sehari-hari,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, CEO Kayuh Wooden Bike Didi Diarsa mengatakan, untuk menciptakan usaha rintisan baru ataustartup kuncinya adalah membaca dan menganalisis data. Hal ini penting untuk mengetahui tren atau kebutuhan pasar.

”Gunakan big data, jangan hanya berdasarkan asumsi. Asumsi itu membunuh,” tukasnya.

CEO Foodizz Andrew Sinaga menambahkan, memulai bisnis harus siap untuk jatuh-bangun, bahkan bangkrut. Data menyebutkan, 90% orang yang berbisnis kuliner di Indonesia mengalami kebangkrutan dan 99% gagal melakukan ekspansi atau membuka outlet kulinernya menjadi lebih dari satu.

”Akar masalahnya bukan modal yang kurang, tapi pengetahuan dan jejaring,” tandasnya. (Nanang Wijayanto/Inda)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini