nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisikan Darmin ke Presiden Jokowi dan Ekonomi RI Tumbuh 5,17%

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 11:51 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 06 20 2014289 bisikan-darmin-ke-presiden-jokowi-dan-ekonomi-ri-tumbuh-5-17-CJwqKJFQ14.jpg Presiden Jokowi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 sebesar 5,17%. Angka ini juga merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2014. Pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 4,88%, kemudian 2015 sebesar 5,03%, pada tahun 2016 tumbuh 5,03% dan 2017 tumbuh 5,07%.

Jauh sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia, Presiden Jokowi sudah lebih tahu  dahulu dari bisikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution pada penutupan perdagangan saham, Jumat 28 Desember 2018.

"Kita harapkan pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai di atas 5%. Tadi Pak Menko membisiki saya kurang lebih 5,17%," ujarnya.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 Capai 5,17%, Tertinggi Sejak 2014

Jokowi menambahkan, angka pertumbuhan ekonomi tersebut memperhatikan pertumbuhan ekonomi setiap kuartalnya. Di mana setiap triwulannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu stabil di angka 5%.

"Didukung oleh inflasi yang rendah saya kira akan lebih rendah dari tahun lalu," ucapnya.

Seperti diberitakan Okezone, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dipengaruhi berbagai hal, antara lain harga komoditas yang mengalami penurunan. Bahkan penurunan harga terjadi pada semua sekitar komoditas baik migas maupun non migas.

"Harga komoditas non migas di pasar internasional pada triwulan keempat secara umum turun dibandingkan tahun lalu dan triwulan III 2018," kata Kepala BPS Suhariyanto.

 Baca Juga: Presiden Jokowi Dibisiki Menko Darmin Pertumbuhan Ekonomi 2018 Sebesar 5,17%

Ditambah lagi lanjut Kecuk, kondisi perekonomian global menunjukan tanda-tanda pelemahan selama 2018. Sebagai salah satu contohnya adalah pertumbuhan ekonomi China yang mengalami perlambatan yang hanya tumbuh 6,4% di triwulan IV.

"Kenapa saya ambil China karena ekspor Indonesia cukup tinggi ke China," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini