nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diminta Serap Produksi Petani, Bulog Kesulitan Salurkan Stok Beras

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 17:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 14 320 2018029 diminta-serap-produksi-petani-bulog-kesulitan-salurkan-stok-beras-91YmFRjy8O.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan penyalurannya. Karena selama ini Perum Bulog masih kesulitan untuk menyalurkan hasil serapannya.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, pemerintah tidak imbang dalam hal penugasan. Pemerintah meminta Perum Bulog untuk menyerap beras petani dan impor, namun hasil serapan tersebut tidak bisa disalurkan kepada pasar karena beberapa hal

Penyaluran hasil serapan semakin sulit setelah pemerintah mengalihkan sebagian besar bantan sosial (bansos) beras sejahtera menjadi bantuan pangan non tunai (BPNT). Hal tersebut membuat stok beras hasil serapan masih menumpuk di gudang milik Bulog.

 Baca Juga: Gudang Penuh, Bulog Siap Ekspor Beras Tahun Ini

Bulog sendiri diberi penugasan oleh Kementerian Pertanian untuk menyerap setidaknya 10 % atau sekitar 1,4 juta ton beras di awal 2019. Hal tersebut setelah munculnya klaim data bahwa potensi produksi beras per Januari hingga Maret mencapai 14,2 juta ton.

Adapun masing-masing rincaiannya adalah sebesar 2,4 juta ton pada Januari, kemudian 4,5 juta ton pada Februari. Sementara pada Maret 2019 potensi produksinya mencapai 7,3 juta ton.

"Kalau Bulog sudah membeli untuk kemudian disimpan di gudang Bulog, untuk apa kalau tidak disalurkan. Makanya Pak Buwas (Dirut Bulog) sedang sibuk mencari pasar di luar negeri untuk ekspor. Apakah bisa diterima dari sana atau tidak nanti kita lihat kualitasnya," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Tri menjelaskan, mengenai penyaluran pemerintah sendiri tidak memberikan penugasan untuk menyuplai beras kepada warung-warung, melainkan BPNT yang ditunjuk sebagai penyalur. Hal tersebut juga yang membuat, Bulog kehilangan banyak pasar sehingga stok yang ada di gudang tidak tersalur dengan lancar.

Oleh karena itu lanjut Tri, pihaknya harus memutar otak lebih keras untuk mengeluarkan stok tersebut. Seperti misalnya degnan melakukan operasi pasar dimana setiap harinya perseroan akan mengeluarkan stok sebanya 3.000 ton.

"Program boleh beda tapi kalau bisa sumber berasnya tetap sama," ujar Tri.

 Baca Juga: Bulog Akan Ekspor Beras, Ombudsman: Pemerintah Harus Hati-Hati

Sebagai gambaran, untuk periode Januari hingga April, Bulog hanya mendapatkan penugasan penyaluran bansos rastra sebesar 213 ribu ton. Padahal, ketika program tersebut masih menjadi pilihan utama, distribusi tiap bulan bisa mencapai 250 ribu ton atau sekitar 3 juta ton per tahun.

Sementara untuk bansos rastra 213 ribu ton itu saat ini harus disalurkan ke 295 kabupaten yang sebagian besar susah dijangkau. Jika diakumulasikan dengan ongkos kirim, maka harga jual beras semestinya mencapai lebih dari Rp10.000 per kilogram atau di atas Harga Eceran Tertingginya sebesar Rp9.450.

"Di tingkat eceran beras umum yang paling laku seharga Rp11.674 padahal Bulog harus jual paling tinggi Rp9.450," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini