Panen Raya, RI Tak Perlu Impor Jagung

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Minggu 17 Februari 2019 14:40 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 17 320 2019122 panen-raya-ri-tak-perlu-impor-jagung-kaJwstMxcq.jpeg Foto: Dok. Kementan

TUBAN - Berbagai daerah di Indonesia kini memasuki panen raya jagung sehingga pasokan pun melimpah. Karena itu, tak perlu impor dan lebih baik menyerap jagung dalam negeri.

”Tuban saat ini banjir jagung. Luas panennya (sekitar) 50.000 hektare (ha). Total produksinya 400.000 sampai 500.000 ton. Artinya, ada 1,5 juta ton. Ini baru Tuban produksi di bulan Februari,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di sela melakukan panen raya jagung di Desa Talun, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (15/2/2019).

Menurut Mentan, saat ini jagung yang bisa digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak ini sudah banyak tersedia di petani. Karena itu, industri pakan ternak dan pengguna jagung lainnya seperti para peternak ayam petelur bisa membeli langsung ke petani atau melalui Perum Bulog.

Panenan kali ini diyakini lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya. Karena itu, stok jagung yang ada di petani melimpah. Agar harga jagung di tingkat petani tidak jatuh, sebagian hasil panen jagung tahun ini akan diekspor. ”Dalam waktu dekat kita ekspor jagung,” tegas Amran.

Amran menuturkan, pada 2018 Indonesia mengekspor jagung 380.000 ton. Tahun ini ekspor ditargetkan lebih tinggi lagi yakni 500.000 ton. Ada beberapa daerah yang menjadi sentra produksi jagung nasional seperti Provinsi Gorontalo, Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan.

Adapun harga jagung saat ini bervariasi, antara daerah satu dengan lainnya berbeda. ”Beberapa daerah di harga Rp3.500 per kilogram. Kami sudah dapat laporan, Sumatera sudah panen, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Tengah juga sudah panen,” tuturnya.

Mentan meminta pengusaha besar memanfaatkan momentum panen jagung yang sedang berlangsung di sentra produksi seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, dan Sulawesi. ”Saya dapat laporan, Sumatera, Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Tengah juga sedang panen.Yang kami khawatirkan kalau panen serentak seperti ini harga jadi anjlok sehingga harga di bawah harga pokok penjualan (HPP),” kata Amran. Pada kesempatan itu, Mentan menginisiasi kesepakatan bersama antara Kementerian Pertanian (Kementan)- Pemerintah Daerah Tuban-Perum Bulog-peternak- petani.

Tujuannya kesepakatan ini untuk stabilisasi pasokan dan harga jagung di tingkat petani dan peternak. Caranya yakni melibatkan Bulog yang membeli jagung petani sebanyak 100 ton tunai. ”Kesepakatan ini, kami ingin sinergikan peternak dengan petani jagung.

 Yang di tengahnya ada Bulog. Pemerintah hadir sehingga dua-duanya untung. Petani untung, peternak tersenyum, juga pengusahanya untung,” ucap Amran. Bupati Tuban Fathul Huda menegaskan, program dan bantuan Kementan telah memberikan dampak besar terhadap kemajuan budi daya jagung di Tuban, yakni sebagai penghasil jagung nomor satu di Provinsi Jawa Timur.

 Realisasi luas tanam jagung 2018 di Tuban mencapai 113.290 ha dari target hanya 109 ha sehingga produksi jagung di Tuban saat ini melimpah. Wantono, 47, penyuluh pertanian sekaligus petani jagung asal Desa Grabakan, Kabupaten Tuban, meminta agar pemerintah tidak mengadakan impor jagung.

 Apabila tetap impor, bisa dipastikan berdampak buruk bagi para petani jagung. ”Jika ada pihak-pihak yang inginkan impor jagung, silakan berhubungan dengan pemerintah daerah, khususnya Tuban untuk menanyakan stok jagung,” ungkapnya. 

”Kalau musim panen saat ini seperti di Kabupaten Tuban, sangat banyak stok jagung. Silakan datang ke sini, daripada impor, biaya angkutnya mahal dan sangat menyengsarakan petani. Impor masuk, harga jagung hancur, petani rugi,” paparnya. 

Pada kegiatan ini pun, Menteri Amran memberikan bantuan untuk peternak dan petani di Tuban meliputi alat pengering jagung (vertical dryer ) kapasitas 10 ton/8 jam sebanyak 20 unit, traktor roda 4 sebanyak 10 unit, traktor roda 2 sebanyak 19 unit, cultivator 5 unit, pompa air 31 unit, alat panen besar (combine harveater ) 5 unit, dan benih jagung hibrida untuk lahan 20.000 ha. (wahyono)

(Baca juga:Provitas Jagung Indonesia Lebih Tinggi Dibanding Thailand, Ini Fakta Dilapangan)

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini