nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Daftar Kopi Termahal di Dunia

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 22 Februari 2019 12:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 22 320 2021419 daftar-kopi-termahal-di-dunia-pI202VZitK.jpg Kopi (Ilustrasi: Shutterstock)

LONDON - Pernah minum kopi seharga Rp90.000 per cangkir? Jika belum, datanglah ke Doha, Qatar. Di sana harga secangkir kopi memang tidak murah. Perlu merogoh kocek agak dalam jika ingin menikmatinya.

Survei yang dilakukan perusahaan keuangan UBS baru-baru ini menyebutkan, Doha menjadi kota termahal di dunia untuk urusan kopi. Mahalnya harga kopi di ibu kota Qatar itu sejalan dengan biaya hidup di kota itu yang lebih tinggi 20-30% dari rata-rata biaya hidup di kota-kota lain di Uni Emirat Arab (UEA). Dalam survei UBS, Doha berada di urutan kota dengan harga kopi termahal, yakni USD6,4 per cangkir (Rp90.000, kurs Rp14.000 perdolar AS). Kota-kota lainnya yang menawarkan harga kopi termahal adalah Kopenhagen (USD6,24 per cangkir) dan Dubai (US D5,7 per cangkir).

Sementara harga rata-rata secangkir kopi di Jakarta, menurut survei tersebut, sebesar USD4,1. Selain menyajikan data kopi termahal, UBS juga merilis kota-kota dengan harga kopi termurah di dunia. Lagos menjadi kota dengan harga kopi termurah dengan banderol secangkir kopi hanya USD0,62 (Rp8.700).

Baca Juga: Mendag Pastikan Produk Olahan Kopi Indonesia ke Filipina Tidak Terhambat Lagi

“Riset menemukan bahwa kopi latte atau cappuccino di salah satu kafe di Kopenhagen dijual senilai USD6,24. Itu dua kali lipat harga secangkir kopi di New York yang harganya rata-rata USD3,12,” ungkap laporan UBS baru-baru ini. Di beberapa kota di dunia lainnya, harga secangkir kopi bervariasi. Misalnya saja di Zurich USD4,98 per cangkir, Moskow USD4,31, Beijing USD4,42, Istanbul USD1,41, Kairo USD1,36, Shanghai USD4,60, Mumbai USD1,06, Dubai USD5,70, Sao Paulo USD1,50, dan Johannesburg USD1,49.

Menurut UBS, saat ini lebih dari 70 negara menanam kopi. Brasil, Vietnam, Kolombia, Indonesia, Honduras, dan Ethiopia menyumbang sekitar setengah dari produksi global kopi dan Uni Eropa merupakan setengah konsumsi global untuk kopi. Khusus Indonesia, berdasarkan data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), setiap tahunnya produksi kopi dalam negeri mencapai 630.000 ton lebih. Dari jumlah tersebut sekitar 70%nya diekspor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menyebutkan, pada 2017 ekspor kopi nasional mencapai 464.000 ton. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya menyatakan, akan terus mendorong diversifikasi produk industri untuk mengisi pasar ekspor.

kopi

Dia melihat industri semakin agresif untuk membuka akses pasar baru dan meningkatkan nilai ekspornya. “Ini seiring komitmen pemerintah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan perizinan termasuk prosedur ekspor,” tuturnya. Di kancah global, data Kementerian Perindustrian menyebutkan ekspor produk kopi olahan nasional terus meningkat setiap tahun nya. Pada 2016, ekspornya mencapai 145.000 ton atau senilai USD428 juta, kemudian meningkat hingga 178.000 ton atau senilai USD487 juta di tahun 2017. Pada 2018, terjadi lonjakan peningkatan ekspor hingga 21,49% atau sebanyak 216.000 ton dengan peningkatan nilai 19,01% atau mencapai USD580 juta.

Ekspor tersebut didominasi oleh kopi olahan berbentuk instan sebesar 87,9% dan sisanya berbasis ekstrak dan essence. Tujuan ekspor utama industri pengolahan kopi nasional, antara lain Filipina, Malaysia, Iran, China dan Uni Emirat Arab. Airlangga juga menyebutkan, Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Hal ini menjadi potensi pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri. “Produksi kopi kita sebesar 639.000 ton pada 2017 atau 8% dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84% merupakan kopi jenis robusta dan 27,16%$ kopi jenis arabika,” ujarnya.

Pada 2017, tercatat ada 101 perusahaan kopi olahan yang meliputi skala besar dan sedang dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 24 ribu orang dan total kapasitas produksi lebih dari 260.000 ton per tahun. Besarnya potensi pasar kopi global harus bisa dimanfaatkan produsen kopi seperti Indonesia. Apalagi saat ini mengonsumsi kopi bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Wakil Ketua Specialty Cof fee Association of Indonesia (SCAI) Daroe Handojo mengatakan bahwa selain ekspor, potensi pasar kopi di dalam negeri juga tinggi.

“Untuk permintaan pasar domestik masih akan terus naik. Apalagi sekarang kopi bukan hanya konsumsi, tetapi juga menjadi gaya hidup,” ujarnya. Sayangnya, menurut dia, permintaan kopi yang tinggi tidak disertai peningkatan produksi kopi. Menurutnya, ada beberapa kendala dalam hal produksi kopi, di antaranya pohon kopi Indonesia yang kebanyakan sudah tua sehingga perlu peremajaan. Daroe mengakui, sekitar 70% kopi Indonesia diekspor. Namun karena permintaan di dalam negeri cukup tinggi, ekspor menjadi turun. “Selain permintaan dalam negeri meningkat, harga kopi dunia juga turun. Jadi kita kalah bersaing dari harga, tapi dari kualitas memang kita tetap bagus,” paparnya.

Konsumsi Tinggi

Sementara itu data lain yang di rilis World Atlas menunjukkan Denmark menjadi salah satu negara paling mahal untuk membeli secangkir kopi. Segelas kopi cappuccino di negara itu rata-rata dihargai USD5,2 atau sekitar Rp73.000. Denmark tidak memproduksi kopi, tetapi mengimpor semua kopi yang mereka konsumsi. Permintaan kopi di Denmark sangat tinggi karena negara itu menjadi konsumen keempat terbesar kopi di dunia. Negara lain yang harga kopinya termasuk mahal adalah Islandia. Secangkir kopi cappuccino di negara Nordik itu mencapai USD5,05. Adapun konsumsi kopi perkapitanya sekitar 9 kg per tahun. Islandia, seperti negara-negara di sekitarnya, tidak menanam kopi, tapi mengimpor seluruh stok kopi yang dikonsumsi.

kopi

“Dengan suhu rata-rata minus 10 derajat Celsius saat musim dingin dan 20 derajat Celsius saat musim panas, banyak orang minum kopi untuk menghangatkan diri. Faktor inilah yang menaikkan permintaan dan harga secangkir kopi,“ papar laporan World Atlas. Sementara itu mengenai mahalnya harga kopi di Qatar, hal itu karena pendapatan per kapita per tahun di negara itu termasuk tinggi, yakni USD124.927 atau yang terbesar di dunia. Karena itu warga Qatar memiliki pendapatan dua kali lipat dari warga Amerika Serikat. “Otomatis dengan pendapatan warga yang tinggi, harga kopi sebesar itu tak jadi masalah,” ungkap laporan tersebut.

Dalam laporan berbeda, situs perbandingan produk bisnis ke bisnis yang berbasis di Inggris, Expert Market, baru-baru ini juga menggelar studi tentang 57 negara terbaik di dunia dalam mendorong pemuda menjadi entrepreneur. Salah satu faktor yang dipertimbangkan Expert Market adalah harga secangkir kopi di setiap negara. Dari data itu di temukan bahwa kopi paling murah ada di Bulgaria dan yang paling mahal dijual di Denmark. “Amerika Serikat (AS) memiliki harga secangkir kopi paling mahal ke 11 di dunia, turun di bawah China, Finlandia, dan Korea Selatan (Korsel),” papar hasil studi Expert Market seperti dilansir Entrepreneur.com.

(Syarifudin/Oktiani Endarwati)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini