nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gubernur BI: Ekonomi RI Tahan dari Gelombang Krisis Tahun Lalu

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 04 Maret 2019 13:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 04 20 2025503 gubernur-bi-ekonomi-ri-tahan-dari-gelombang-krisis-tahun-lalu-dkhFNlmT4t.jpg Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Okezone)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan jika perekonomian Indonesia memiliki fundamental yang sangat kuat. Hal tersebut terbukti dari tumbuhnya ekonomi Indonesia meskipun hanya 5,17% pada 2018.

Pada tahun lalu kondisi global sedang tidak ramah. Hal tersebut membuat beberapa negara mengalami krisis ekonomi pada tahun lalu. Sebagai salah satu contohnya adalah krisis ekonomi yang terjadi pada Turki. Selain itu ada juga krisis pada Venezuela yang bahkan negara ini disebut-sebut bangkrut pada tahun lalu.

"Kalau negara lain enggak tahan karena gelombang dampak dari ketidakramahan dunia seperti Turki krisis Brazil hampir saja, kita justru tahan bahkan kita juga tidak hanya jaga stabilitas tapi juga ekonominya naik," ujarnya dalam acara Hari Jadi RSM ke-34 di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (4/3/2019).

Baca Juga: Gubernur BI Yakin Ekonomi RI Kian Berjaya, Ini Sederet Alasannya

Menurut Perry, jangan hanya melihat dari angka pertumbuhannya saja melainkan juga dari faktor-faktor penunjangnya. Seperti misalnya adalah konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh di atas 5%.

Seperti diketahui, konsumsi rumah tangga sendiri menjadi salah satu indikator dari pertumbuhan ekonomi. Jika konsumsi rumah tangga tinggi, maka ekonomi Indonesia juga mengalami pertumbuhan.

"Tahun lalu pertumbuhan ekonomi 5,17%. Tapi jangan dilihat 5,17% nya. Itu naik komposisinya konsumsi rumah tangga 5,05%," jelasnya.

Menurutnya, ini cukup positif sebab sebelumnya banyak sekali yang menyebut jika daya beli menurun. Hal tersebut tidak terlepas dari banyaknya ritel yang tutup pada tahun lalu.

"Ada yang katakan daya beli turun kok konsumsi rumah tangga di atas 5%. Mungkin segmen rumah tangga kalau pemerintah kasih bansos itu konsumsi bisa naik yaa," jelasnya.

Di sisi lain salah satu stimulus pertumbuhan ekonomi adalah investasi. Salah satu investasi yang tinggi adalah pada sektor konstruksi. Hal tersebut tidak terlepas dari fokus pemerintah untuk membangun infrastruktur.

"Non konstruksi juga biak di tahun lalu kalau itu kita jumlah konsumsi rumah tangga Pertumbuhan ekonomi domestik agregat demand itu tumbuh 5,5%. Itu cukup bagus," jelasnya.

Baca Juga: Gubernur BI: Outlook Ekonomi Tahun Ini Optimis, Optimis dan Optimis!

Yang harus menjadi pekerjaan rumah oleh pemerintah adalah bagaimana meningkatkan ekspornya lebih tinggi lagi. Sebab menurutnya, neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit meskipun ada pertumbuhan angka ekspor.

"Nah itu ekspor meski digenjot karena hanya 6,5%. Investasi tinggi impor tinggi. Karena selama ini kita terkendali dari dulu sampai sekarang kita ekspor barang mentah,", jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini