nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akankah Apple Bernasib Sama seperti Nokia?

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 05 Maret 2019 12:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 05 320 2025975 akankah-apple-bernasib-sama-seperti-nokia-V22W4XImu6.jpg Foto: Apple (Reuters)

JAKARTA - Kurang lebih 44 tahun yang lalu Apple hanyalah usaha dua orang sahabat untuk mewujudkan visi dan misi mereka di dalam garasi sebuah rumah. Kemudian berlanjut menjadi Apple Inc., sebuah perusahaan besar dan menduduki peringkat pertama dari beberapa kategori penilaian.

Apple sempat menghasilkan keuntungan triwulanan tertinggi dari perusahaan manapun yang pernah ada. Inovasi yang diberikan Apple juga sedemikian canggihnya sehingga produk-produk mereka menjadi barometer semua perusahaan teknologi pada awalnya. Produk keluaran Apple berhasil mengubah dunia dan sangat populer, seolah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama iPhone yang men jadi tulang punggung pendapatan Apple. Baru-baru ini peringkat Apple sebagai perusahaan paling inovatif di dunia menurun drastis.

Perusahaan teknologi raksasa itu terlempar jauh dari posisi 1 tahun lalu ke posisi 17 tahun ini dalam daftar perusa haan paling inovatif di dunia versi majalah Fast Company . Apple dianggap tidak mampu menciptakan inovasi baru yang berdampak luas dalam setahun terakhir.

Baca Juga: Perseteruan Apple-Qualcomm Terus Berlanjut, Begini Ceritanya!

Beberapa tahun terakhir Apple memang sangat bergantung pada pengguna lama yang sudah cinta mati akan produk-produk mereka, bahkan bisa dibilang militan. Setiap peluncuran produk terbaru anak emas mereka iPhone selalu di beritakan terjadi antrean menggila pada Apple Store di beberapa negara, orang-orang rela mengantre dan menginap, jauh sebelum toko dibuka demi mendapatkan produk terbaru.

Namun, semakin hari sebagian pengguna merasakan harga produk terbaru iPhone semakin tidak terjangkau dan akhirnya pengguna lama tetap mempertahankan gawai mereka dengan cara cukup mengganti baterai saja. Antrean pada saat peluncuran produk terbaru iPhone 8 pun makin pendek, tidak seperti sebelumnya.

Mengutip dari CNBC International, akhirnya Apple menurunkan panduan pendapatannya menjadi USD84 miliar (sekitar Rp1.210 triliun) dari USD89 miliar hingga USD93 miliar yang diperkirakan sebelumnya. Semua ini dikarenakan penjualan ponsel pintar iPhone jauh dari harapan.

Selama ini ada anggapan bahwa merek ponsel tertentu memiliki kaitan langsung dengan status sosial seseorang di masyarakat. Jika seseorang memiliki ponsel pintar dengan spesifikasi terkini, misalnya, dia akan dianggap memiliki status sosial tinggi di masyarakat.

Di antara beragam merek yang ada, produk iPhone menjadi yang paling banyak mendapatkan kesan mewah. Seseorang yang memiliki dan menggunakan iPhone sering dinilai berasal dari kalangan berada. Berdasarkan artikel South China Morning Post, anggapan ini justru tidak berlaku di China.

Baca Juga: Dinilai Tangguh, Qualcomm Naikkan Gaji CEO Steve Mollenkop

Sebuah riset yang dilakukan lembaga MobData, justru menemukan pengguna iPhone mayoritas berasal dari kalangan miskin terselubung. Maksudnya, kemiskinan itu tidak terlihat karena tertutup penampilan dan gayanya yang terlihat mewah dengan atribut produk mahal, tidak mencerminkan seseorang yang tidak mampu secara finansial. Hal ini berbanding terbalik dengan pemilik ponsel pintar merek lain, misalnya, Huawei atau Xiaomi. Menurut penelitian itu, pengguna dua ponsel itu cenderung berasal dari kalangan berada.

Saya rasa tidak berbeda jauh dengan kondisi yang ada di Indonesia, maraknya pemberian fasilitas kredit, baik dengan kartu kredit maupun online, memudahkan sebagian besar masyarakat dengan penghasilan rendah memperoleh produk terbaru Apple bagaimanapun caranya. Namun, kalau harganya semakin mahal, pastinya daya beli juga semakin melemah. Alternatif merek lain seperti Samsung menjadi lebih masuk akal untuk tetap mendongkrak gaya hidup yang ingin tetap terlihat mewah. Sebenarnya, semua hal tersebut tidak akan terjadi tanpa kekuatan sebuah brand.

Apple memiliki kekuatan brand luar biasa, orang-orang tak akan menyebut iPhone dengan sebutan smartphone, pengguna Mac Book tak akan menyebut Mac Book mereka dengan sebutan laptop, atau iPad tak disebut PC tablet. Apple hadir dengan keeksklusifan setiap produknya masing-masing. Bagaimana Apple dapat membangun narasi menjadi suatu brand yang paling diinginkan di Indonesia? Semua ini terbentuk dari kepuasan dan tradisi marketing word of mouth yang dilahirkan oleh pelanggannya. Selain itu, strategi product placement untuk menciptakan suatu brand menjadi bagian dari gaya hidup, sering dilakukan oleh Apple.

Kita sering melihat produk Apple pada beberapa film bioskop terutama produksi Hollywood. Anda pastinya ingat film Mission Impossible tentang kisah agen rahasia Ethan Hunt yang diperankan oleh Tom Cruise, berhasil menjadi gambaran dunia dengan aksi di luar imajinasi, menunjukkan kemajuan teknologi jauh lebih maju dibandingkan yang terjadi di dunia nyata pada saat itu, dan produk Apple muncul dalam adegan-adegan pada film tersebut.

Secara tidak sadar masyarakat mendapat kesan produk Apple adalah lompatan inovasi teknologi, keren, dan harus dimiliki. Pada dasarnya, branding meru pakan cara merek tertentu menyampaikan makna sebuah produk agar memiliki roh.

Ikatan emosi antara pengenal brand seperti logo harus dibangun, memastikan semua sejalan dengan narasi brand yang bersangkutan. Sejak awal, Apple suka menyatakan mereka menciptakan masa depan dengan produk yang akan mengubah dunia.

Steve Jobs, salah seorang pendiri, tidak membuat Mac, tetapid ia menciptakan persepsi di pasar bahwa apa yang Apple berikan merupakan cara baru yang lebih baik untuk menggunakan teknologi. Ketika Steve masih hidup, entah bagaimana dia menemukan cara untuk membuat barang-barang yang belum tentu kita tahu dan butuhkan, dan itu adalah kejeniusannya.

Identitas Apple adalah brand dengan teknologi terdepan. Namun, bila sebagian masyarakat yang telah sadar menilai teknologi yang ditawarkan pada produk terbaru mereka sudah tidak lagi menjadi lompatan teknologi dibanding para pesaingnya, akankah produk Apple masih dinantikan lagi? Nokia yang pernah menjadi perusahaan telepon genggam nomor satu di dunia pun akhirnya tumbang, kehilangan momentumnya, gagal menyuguhkan inovasi untuk menandingi para pesaingnya.

Masih ingat bagaimana setiap pekan bahkan kita disuguhkan oleh produk baru Nokia, mulai dari ponsel Nokia sejuta umat 5110, kemudian dengan bentuk yang unik dengan julukan Nokia pisang, sampai akhirnya masyarakat pun kewalahan mengenali jenisnya satu persatu, selalu berganti model tanpa adanya keunggulan komparatif. Goldman Sachs’ Rod Hall, salah satu investor Apple, memperkirakan perusahaan teknologi yang berkantor pusat di Cupertino, California, tersebut akan bernasib sama seperti Nokia. Artinya, Apple akan benar-benar mati karena ditinggalkan penggunanya.

Masih ada harapan saya menanti orang-orang hebat yang ada di perusahaan berlogo buah apel tergigit ini bisa membalikkan situasi sulit seperti saat ini dan dapat menggigit dunia kembali. Akankah usaha mereka membalikkan keadaan seperti dahulu dapat terulang kembali, keluar dari krisis dan menjadi pemenang? Ataukah nasib mereka akan sama seperti Nokia, yang kehilangan mo mentum untuk tetap menjadi brand terpandang.

ROMANO BHAKTINEGARA

Jurnalis, PR & Marketing Expert

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini