nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

100.000 Generasi Milenial Diprediksi Beli Rumah Tahun Ini

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 05 Maret 2019 18:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 05 470 2026209 100-000-generasi-milenial-diprediksi-beli-rumah-tahun-ini-9Z6c9xDUa8.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) menyambut positif wacana pemerintah untuk menaikan batas maksimal penghasilan yang bisa menerima subsidi perumahan. Rencananya pemerintah sendiri akan menaikan batas penghasilan penerima rumah subsidi dari Rp4 juta menjadi Rp8 juta.

Ketua Umum Himperra Harry Endang Kawidjaja mengatakan, dengan adanya kenaikan batas maksimal penghasilan penerima subsidi bisa menarik pasar milenial untuk membeli rumah. Berdasarkan perkiraannya ada sekitar 100.000 milenial yang akan membeli rumah jika kebijakan ini diberlakukan.

"Belum tahu, tapi diperkirakan 100.000 milenial. Itu sebagai pembanding kira-kira 40%," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (5/3/2019).

 Baca Juga: Skema Rumah Subsidi untuk PNS, Gaji Rp8 Juta Beli Rumah Rp250 Juta

Sementara itu bagi Himperra sendiri pada tahun ini akan membangun sekitar 700.000 rumah subsidi. Dari jumlah tersebut, 20% di antaranya merupakan pasar milenial, artinya ada sekitar 140.000 milenial yang akan membeli rumah yang dibangun oleh Himperra. "Tahun ini kalau ada anggarannya cukup 70.000 rumah. Kita kira kira 20%," ucapnya.

Endang, menambahkan dengan program tersebut, maka bisa membuka pasar baru para pengembang. Selama ini banyak yang berpenghasilan MBR nanggung dengan pendapatan Rp5 juta misalnya tidak bisa memilii rumah subsidi. Sebab penghasilan mereka di atas batas maksimal yang sesuai dengan Peraturan Menteri Keaungan (PMK) yakni sekitar Rp4,5 juta. "Pasti membantu, itu kan bisa menambah kelompok sasaran baru," ucapnya

Di sisi lain, generasi milenial juga banyak yang tidak mau memiliki hunian dikarenakan gaya hidupnya sendiri. Banyak PNS maupun swasta milenial yang lebih memilih untuk membeli barang untuk gaya hidupnya ataupun travelling dibandingkan untuk membeli rumah.

"Pasar milenial ini dianggap maunya happy. Pemerintah memikirkan membuat investasi. Dan anda tahu katakan kita punya uang Rp100-Rp200 juta kita beli motor dan rumah kita lihat lima tahun ke depan harganya masih tinggi enggak," katanya.

 Baca Juga: Kubu Prabowo Sebut Angka Backlog 20 Juta Rumah, Cek Faktanya

Meskipun positif lanjut endang, pihakya mempunya beberapa usulan kepada pemerintah untuk menerapkan rumah subsidi ini. Adalah dengan membagi rumah subsidi menjadi dua bagian yang mana pembagiannya disesuaikan dengan penghasilannya.

Sebagai salah satu contohnya adalah, mereka yang berpenghasilan Rp7-8 juta diperbolehkan untuk mendapatkan rumah subsidi dari pemerintah. Hanya saja. harga rumah subsidi yang bisa dibeli berbeda dengan mereka yang berpenghasilan Rp4-5 juta per bulannya.

Bagi mereka dengan penghasilan Rp7-8 juta, mereka diperbolehkan untuk mendapatkan rumah subsidi dengan harga Rp200-250 juta. Sedangkan mereka yang berpenghasilan Rp4-5 juta bisa mendapatkan rumah subsidi seharag Rp150-170 jutaan.

Namun fasilitas yang didapatkan keduanya tetap sama. Seperti misalnya bunga flat selama masa cicilan, atua Down Payment (DP) alias uang muka yang sama yakni 1-5%.

"Yang kita usulkan sih kalau gini diliat ada dua tingkatan yang gaji Rp7 juta dan Rp 4 juta. Nah mereka yang bergaji Rp4 juta bisa beli lewat skema PMK. Lalu ada mereka yang berpenghasilan Rp 8 jutaan. Skema itu membuka rumah tapak yang berkisar Rp200-250 juta," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini