Kekurangan Guangzhou dari kota teratas lainnya ialah cukup tingginya tingkat polusi. Kota di Asia yang terbilang cukup seimbang hanyalah Melbourne. Selain tingkat polusi yang rendah dan masuk peringkat Indeks Perdamaian Global, warga di kota itu juga hanya menghabiskan 20% gajinya untuk sewa tempat tinggal.
“Melbourne memiliki lingkungan yang bagus. Di samping itu, Melbourne merupakan tempat yang relatif terjangkau. Kami mengestimasikan warga di sana mampu menggunakan 80% gajinya untuk hal lain di luar sewa tempat tinggal,” ungkap Value Champions.
Hanya, angka pengangguran di Melbourne tinggi. WEF menyatakan kaum muda milenial juga tak sedikit yang ingin pindah dan bekerja di negara emerging-market. Negara emergingmarket terfavorit mereka ialah China dan Uni Emirates Arab (UEA) yang telah mengalami kemajuan signifikan.
Disusul Brasil, Afrika Selatan, dan Argentina. Salah satu faktor utama yang mendorong kaum muda milenial memilih China dan UEA ialah kuatnya prospek pekerjaan.
Baca Juga: Milenial, Ini 5 Kota Terbaik di Asia untuk Kerja dan Hidup!
Sekitar sepertiga (34%) responden dari seluruh dunia menyatakan peluang ekonomi dan karier menjadi salah satu permasalahan paling serius yang merusak negara mereka, termasuk korupsi.
Secara keseluruhan, kaum milenial masih menekankan nilai utama pada gaji (54%) dan kemajuan karier (46%) dibanding tujuan dan dampak terhadap masyarakat (37%) dalam pekerjaan mereka. Fenomena itu banyak terjadi di negara seperti China dan India, juga UEA.
Adapun tujuan yang menjadi prioritas milenial yakni Barat. Penelitian tersebut melibatkan 20.000 milenial berusia 18-35 tahun dari 187 negara. WEF dalam hal ini Global Shapers Community meminta mereka untuk menyampaikan pandangan terkait bisnis, ekonomi, politik, dan teknologi.
Global Shapers Community sendiri dipimpin dan dioperasikan oleh anak muda 20-29 tahun. Namun, sebagian kaum muda milenial mengaku pesimistis dan mengalami penurunan motivasi bekerja.

Sebanyak 43% juga mengaku ingin keluar dari pekerjaannya. Hanya sekitar 48% yang meyakini bisnis masih taat kode etik dan banyak bos yang berkomitmen membantu meningkatkan kesejahteraan karyawan.
“Salah satu cara membangkitkan semangat kerja kaum milenial ialah dengan pemberian bonus dan membangun budaya kerja yang nyaman dan aman. Segalanya akan terasa lain jika tingkat fleksibilitasnya bagus dan pegawainya dari berbagai etnis. Mereka yang tidak puas tidak menemukan itu,” ungkap Deloitte.
Meski mengetahui pentingnya Industry 4.0, kaum milenial mengaku belum siap dengan perubahan yang akan terjadi. Mereka berharap lembaga pendidikan dapat menangkal permasalahan ini dengan cepat.