nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fintech Harus Bermanfaat Untuk Perekonomian Nasional

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 11:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 11 320 2028331 fintech-harus-bermanfaat-untuk-perekonomian-nasional-spyVFqpGP4.jpg Fintech (Ilustrasi: Shutterstock)

SURAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan perkembangan financial technology (fintech) yang sangat pesat bisa dimanfaatkan untuk kepentingan perekonomian nasional.

Praktiknya juga harus mengutamakan kepentingan masyarakat dengan aspek perlindungan konsumen. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan perkembangan fintech adalah keniscayaan. Untuk itu, OJK mengarahkannya agar bermanfaat untuk perekonomian nasional dan kepentingan masyarakat luas serta mengutamakan perlindungan terhadap masyarakat. “Indonesia memiliki modal besar mengembangkan fintech, yaitu populasi milenial dan masyarakat kelas menengah yang mencapai 45 juta orang, serta total pengguna internet mencapai 150 juta,” kata Wimboh saat membuka seminar “Fitech Goes To Campus Kolaborasi Milenial dan Fintech Menyongsong Revolusi Industri 4.0” di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Baca Juga: OJK Perintahkan Lembaga Keuangan Gunakan Sistem Pengenal Nasabah Digital

Menurut Wimboh, perkembangan fintech seharusnya bisa memiliki banyak manfaat di Indonesia, mengingat tingkat inklusi keuangan nasional masih rendah, jumlah penduduk yang besar, dan demografi penduduk tersebar. Di Indonesia tingkat inklusi keuangan pada 2016 sebesar 67,8%. Sementara itu, menurut hasil riset Bank Dunia, sebanyak 20% kenaikan inklusi keuangan melalui adopsi layanan keuangan digital akan menyediakan tambahan 1,7 juta pekerjaan, bahkan lebih di negara berkembang.

Untuk mendorong manfaat fintech, OJK menyediakan kerangka pengaturan dan pengawasan yang memberikan fleksibilitas ruang inovasi namun tanpa mengorbankan prinsip-prinsip transparan, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness (TARIF) melalui penyediaan payung hukum inovasi keuangan digital dan pengaturan per produk, seperti layanan inovasi keuangan digital, layanan digital banking, peer to peer (P2P) lending, dan equity crowdfunding. Khusus untuk layanan P2P lending, OJK juga telah menunjuk Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) untuk menetapkan standar (code of conduct) dengan menggunakan pendekatan disiplin pasar yang berlaku bagi anggotanya dan menyediakan Pedoman Perilaku Pemberian Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi secara Bertanggung Jawab, yang memberikan panduan etika serta perilaku bertanggung jawab bagi anggota AFPI.

fintech

Perkembangan fintech P2P lending hingga Januari 2019 tercatat akumulasi pinjaman Rp25,9 triliun, out standing pinjaman Rp5,7 triliun, perusahaan terdaftar atau berizin 99 perusahaan, jumlah rekening pemberi pinjaman 267.496, dan jumlah rekening peminjam 5.160.120. Untuk membangun perlindungan bagi masyarakat pengguna fintech P2P lending, OJK terus meminta agar masyarakat hanya bertransaksi melalui fintech P2P lending yang terdaftar dan berizin OJK. Masyarakat diminta menghindari fintech ilegal yang oleh Satgas Waspada Investasi berhasil dideteksi dan jumlahnya mencapai 803 entitas.

Satgas Waspada Investasi sudah meminta Kemkominfo untuk menutup fintech illegal tersebut. OJK juga meminta masyarakat yang sudah menjadi korban fintech illegal agar segera melaporkannya kepada pihak kepolisian. OJK bersama AFPI juga membangun dan menegakkan standar pengawasan berbasis market conduct yang menekankan fungsi perlindungan konsumen. Pada kesempatan sama, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mendorong para akademisi UNS menjadi pelaku startup fintech dengan melakukan studi tiru menciptakan jurusan di bidang startup. Salah satu bidang yang bisa di geluti startup misalnya, logistik yang potensial lantaran 23,3% belanja ekonomi Indonesia untuk logistik.

“Biasanya, pola biasa setelah A, maka akan dilakukan B dan C lalu D. Banyak korporasi BUMN melakukan demikian. Tapi yang dibutuhkan startup itu pola pikirnya terserah mau yang mana dulu, mau E dulu atau D dulu, yang penting A jadi dulu,” kata Rudiantara.

(Hafid Fuad)

(kmj)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini